Dengung dari mesin pendingin ruangan di sudut koridor memenuhi kesunyian. Lorong panjang memantulkan cahaya putih dari deretan lampu neon di langit-langit beton.
Langkah kaki Yosep terdengar lambat, berdecit pendek setiap kali bergeser di atas permukaan lembap. Pundak sedikit turun, tangan kanannya mendekap map biru tua tebal, permukaannya sudah memudar. Kemeja flanel kotaknya yang longgar menyapu sisi celana saat ia berhenti di depan pintu baja abu-abu di ujung koridor. Pintu terbuka ke dalam setelah Yosep menempelkan kartu akses magnetik polos pada sensor yang berkedip merah.
Di dalam ruangan, aroma kertas tua, pelapis sofa, dan hawa panas dari ventilasi pembuangan komputer bercampur di udara. Empat unit monitor menyala bersamaan di atas meja kayu panjang, cahaya kebiruan menerangi separuh bagian tengah ruangan.
Seorang pria paruh baya lainnya sudah duduk bersandar di kursi putar. Tubuhnya dibalut jaket katun gelap, kerah tinggi menutup sebagian lehernya. Tangannya memegang kertas memo bergerak lambat di bawah sorotan lampu meja tangkai angsa. Wajahnya tertutup bayangan yang tidak terjangkau cahaya monitor.
Yosep meletakkan map biru tua di atas tumpukan dokumen dekat papan ketik. "Update terbaru."
Pria di kursi putar tidak mendongak. Jemarinya membalik halaman laporan pelan. "Udah gue baca."
Yosep menarik kursi, mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Pria bkedua menggeser tetikusnya, tampilan monitor pertama berganti ke jajaran potret Cakra yang sedang turun dari kabin pikap Joni di gudang Baskoro.
"Nicholas mulai percaya," kata Yosep, jemarinya bergerak mengambil kotak permen mint kecil dari saku kemejanya.
"Teralalu cepat," sahut pria di balik bayangan.
"Baskoro juga," Yosep memasukkan sebutir permen ke dalam mulutnya.
"Itu yang bikin gue khawatir." Pria berjaket gelap menghentikan gerakan tetikusnya, matanya terpaku pada posisi tangan Baskoro menepuk bahu Cakra dalam potongan gambar terakhir.
Yosep mengalihkan pandangannya dari monitor ke arah rekannya. "Kenapa?"
"Kalau Baskoro suka seseorang..." Pria itu menjeda kalimatnya, suara dengung pendingin ruangan mengisi jeda. "...biasanya orang itu mati."
Yosep menarik sudut bibirnya pendek. Ia membetulkan letak letak kacamatanya yang melorot di pangkal hidung.
Tampilan empat monitor berkedip bersamaan ketika pria berjaket gelap menekan tombol delete di papan ketik. Foto-foto pelabuhan lenyap, digantikan oleh baris teks berpola sistem pengawasan internal polda dengan baris judul tebal berkedip merah: INVESTIGASI INTERNAL. TARGET: CAKRA.
Yosep terkekeh. "Citra akhirnya bergerak."
"Dia paling cerdas," sahut pria di balik bayangan, matanya mengikuti gerakan kursor yang memindai lampiran dokumen yang sedang diunduh secara ilegal dari server direktorat kriminal umum.
Di layar muncul lembaran riwayat hidup yang sudah dimodifikasi secara terstruktur. Nama besar CAKRA tertulis di bagian atas, diikuti rangkaian daftar riwayat pekerjaan yang selalu berakhir dengan catatan buruk atau kemalangan logistik.
Yosep menatap deretan daftar panjang di layar monitor, kepalanya menggeleng lambat. "Kalau gue nggak tahu siapa dia..."
"...gue juga bakal percaya," pria berjaket gelap menyambung kalimat itu sebelum Yosep menyelesaikannya. Tangannya melepas tetikus, data profil palsu Cakra terpampang di layar.
Pria kedua menjangkau folder kulit hitam polos tanpa nomor arsip atau logo instansi yang tergeletak di bagian bawah laci mejanya. Ia membuka lipatan pengikatnya, lembaran kertas pertama terekspos di bawah sorotan lampu meja tangkai angsa. Matanya menatap judul nama Shaka Pradipta di bagian atas halaman pertama.
Yosep condongkan badannya ke depan, matanya menyusuri baris demi baris informasi yang tercantum di lembar pertama.