BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #32

32. JONI

Uap panas mengambang di atas tumpukan pipa besi dan bodi truk tronton yang membusuk di sudut pangkalan. Aroma karat yang menyengat bercampur dengan bau oli bekas dan solar yang tumpah di atas tanah kering. Di bawah naungan atap seng yang berderit setiap kali angin berembus, suara lengkingan gerinda memotong pelat baja saling bersahutan dengan riuh burung gereja yang berebut sisa pakan di sela-sela kayu palet.

Joni duduk di atas kursi plastik biru, tangannya memegang cangkir kopi. Matanya mengawasi area tengah pangkalan. 

Baron berdiri di dekat mesin kompresor, kaos singlet hitamnya basah oleh keringat, memegang kunci inggris berukuran besar. Cakra sedang berjongkok di depannya, memeriksa segel katup hidrolik. 

"Lo salah," suara Baron meninggi. 

Cakra tidak mendongak, jemarinya masih meraba celah baut. "Saya belum ngomong."

"Muka lo udah salah," Baron mengetuk ujung kunci inggris ke lantai semen.

Cakra menegakkan punggungnya, menyeka dahi dengan punggung tangan. "Bang, logika Abang menarik."

Baron membusungkan dadanya, menarik sudut bibirnya tinggi-tiga. "Makasih."

"Bukan pujian," sambung Cakra datar, lalu kembali menunduk memutar sekrup katup.

Joni menyesap kopinya lambat.

"Dulu, waktu pangkalan ini masih dekat dermaga lama, gue pernah ditusuk tujuh orang sekaligus," Baron duduk di atas ban bekas, tangannya bergerak menikam ke udara dengan kunci inggris. Otot lengan atasnya menegang.

Cakra menoleh, tangannya mengelap sisa oli dengan kain majun. "Abang selamat?"

"Jelas. Kalau nggak, siapa yang sekarang ngajarin lo cara bongkar pasang girboks?" Baron menepuk dadanya dua kali. 

"Yang nusuk gimana?"

"Kabur. Pecundang semua."

Baron melempar pandangan ke arah Juki yang baru datang membawa dua botol air mineral dingin. Cakra melipat kain majunnya menjadi segi empat, meletakkannya di atas kotak perkakas.

"Kalau tujuh orang nusuk satu orang dan gagal..." Cakra menjeda kalimatnya, menatap lurus ke mata Baron. "...berarti kualitas tim mereka buruk."

Tangan Baron membeku di udara. Rahangnya bergerak naik-turun, urat di samping lehernya perlahan kemerahan. 

Joni tersedak kecil, beberapa tetes kopi hitam keluar dari hidungnya, ia terbatuk, bahunya terguncang.

Kipas angin besi di sudut warung tenda berputar pelan. Di atas meja panjang, piring-piring seng berisi sisa kepala ikan goreng dan sambal terasi. Suara pembawa berita dari televisi empat belas inci di atas etalase kaca mengisi suasan.

Juki menyendok sisa nasi terakhirnya, matanya melirik ke arah Cakra, membersihkan duri ikan dengan garpu. "Lo akhir-akhir ini sering ilang."

Cakra memindahkan sepotong daging ikan ke dalam mulutnya. "Nggak.

"Sering," Baron menyambar dari seberang meja, mulutnya masih penuh dengan kerupuk kulit. "Minggu lalu lo absen dua kali pas bongkar muatan plat baja dari Lampung. Biasanya lo yang paling depan kalau urusan duit harian."

"Gue hidup sosial," sahut Cakra tenang.

Lihat selengkapnya