BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #33

33. VERONICA

Debu-debu halus melayang di cahaya matahari sore yang menerobos masuk lewat barisan jendela kaca patri berbingkai kayu jati. Aroma lembap khas dari ribuan jilid buku bersampul kulit dan kertas-kertas koran tua yang mulai mencokelat di tepi-tepinya memenuhi gedung perpustakasn.

Lantai kayu jati yang menua mengeluarkan bunyi derit halus setiap kali menerima beban langkah kaki, memecah kesunyian yang terjaga di antara deretan rak-rak tinggi yang menjulang hingga mendekati langit-langit berukir.

Cakra melangkah melintasi pintu masuk utama. Tas selempang kanvas hitamnya bergantung longgar di bahu kiri, bergeser mengikuti langkahnya. Di balik meja, seorang petugas perpustakaan tua dengan kacamata yang bertumpu di ujung hidung mendongak dari balik koridor pendek.

"Datang lagi," suara petugas itu serak dan pelan, nyaris tenggelam derit kipas angin gantung di atas kepala mereka.

Cakra menghentikan langkahnya, satu tangannya bertumpu di ujung meja kayu. "Bukunya belum habis, kan?"

Petugas tua itu membalik halaman buku besarnya dengan ujung jari, lalu menarik napas pendek. "Perpustakaan ini yang habis duluan."

Cakra mengangguk sekali lalu memutar tubuhnya menuju tangga kayu spiral di sudut ruangan. Sol sepatunya mengetuk anak tangga satu demi satu.

Di sudut baca paling belakang, tepat di bawah bayangan rak kayu ek, meja bundar kecil dikelilingi dua kursi. Sinar matahari sore menyisakan cahaya oranye tipis di atas permukaan meja yang berdebu.

Yosep duduk di sudut ruangan. Bahunya turun, jenarinya bergerak lambat, membalik halaman buku tebal kronik pelabuhan kolonial.

"Tiga menit terlambat," Matanya masih menatap halaman buku.

Cakra menarik kursi kosong di seberang meja. Ia meletakkan tas kanvasnya di lantai, di antara celah kakinya. "Jakarta macet."

Yosep membalik satu halaman lagi, jemarinya mengetuk pinggiran kertas. "Alasan paling malas."

"Karena paling sering berhasil," sahut Cakra, punggungnya bersandar ke sandaran kursi.

Yosep mendengus, ia menandai halaman bukunya dengan selembar kertas pembatas tipis, lalu bukunya. Matanya beralih menatap Cakra.

"Nicholas?" tangannya bergerak meluruskan letak pulpen di atas meja.

"Masih hidup," mata Cakra bergerak mengikuti bayangan dedaunan pohon tanjung yang bergoyang di balik jendela kaca.

"Lucu."

"Terima kasih."

Yosep menatap lipatan kerah kaos Cakra. Cakra meletakkan tangan kirinya di atas meja.

Tangan kanan Yosep terulur, meraih map cokelat tanpa tali di samping. Jari telunjuknya mendorong pelan. Map bergeser, berhenti di tangan kiri Cakra.

"Pesenan lo," suaranya merendah.

Cakra mengulurkan jemarinya, membuka lipatan pertama dari. Nama Kirana Putri terpantul di pupil matanya.

Lihat selengkapnya