Mendung tipis menggantung rendah di atas langit barat Jakarta, sisa riak panas perlahan mengendap dari aspal Alun-Alun Fatahillah. Aroma minyak jelantah dari gerobak kerak telor, parfum murah, dan bau lumut dari dinding-dinding bata bangunan kolonial yang mengepung area terbuka. Di tengah riuh ratusan wisatawan, belasan sepeda ontel cat merah muda, hijau neon, dan kuning menyala bergerak bersilang-siangan, dipandu lengkingan peluit pemandu wisata yang konstan.
Kirana duduk di salah satu bangku taman, tepat di bawah bayangan pohon trembesi. Lengan kemeja putih katun digulung rapi hingga batas siku, dipadukan dengan celana kain hitam semata kaki.
Jemari kanannya mengetuk permukaan layar ponsel yang gelap. Angka 15:55 dari layar ponsel terpantul di pupil matanya.
Ia menekan tombol kunci, memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang kulit kecilnya. hanya untuk mengeluarkannya lagi lima detik kemudian.
Layar kembali menyala. Tetap pukul 15.55.
Kirana mengembuskan napas pendek melalui hidung, membetulkan letak kerah kemejanya. Matanya menyisir kerumunan orang yang bergerak di dekat Museum Sejarah Jakarta, memperhatikan setiap siluet pria yang mengenakan pakaian kasual.
Cakra berjalan santai membelah barisan penyewa sepeda. Kaos abu-abu polos, jaket jip tipis sewarna tanah, lengannya ditarik setengah, dan celana denim hitam. Tangannya masuk di saku jaket, ia berhenti tepat dua meter di depan bangku besi.
"Mbak udah lama?" suara Cakra teredam suara petikan gitar dari musisi jalanan di sisi kanan mereka.
Kirana berdiri, meluruskan lipatan celananya. "Nggak."
Mata Cakra bergerak sekilas ke arah jam dinding besar di menara gedung gubernuran di seberang mereka, lalu kembali ke wajah Kirana. Sudut bibirnya membentuk guratan tipis. "Kebiasaan perempuan."
Kirana menaikkan sebelah alisnya. "Hah?"
"Datang dua belas menit duluan, terus bilang nggak lama," Cakra menarik tangan dari sakunya, membetulkan letak tas ransel kanvas kecil di punggungnya.
Mata Kirana melebar, ia memutar tubuhnya lalu melangkah mendahului ke arah koridor berbatu. Cakra terkekeh pelan, menyamakan langkah kakinya.
Langkah kaki mereka menyusuri tepian alun-alun yang padat menjelang senja. Di sebelah kiri, seorang pelukis jalanan menggores arang di atas kertas sketsa, menggambar bayangan wajah seorang anak kecil yang duduk kaku di depan tatakan kayu. Di sebelah kanan, tiga remaja perempuan tertawa keras saat salah satu dari mereka gagal menjaga keseimbangan di atas sepeda ontel berhias topi janur.
"Mbak dulu waktu kecil pernah main ke sini?" Pandangan Cakra terbagi antara barisan stan suvenir dan langkah kakinya sendiri.
"Pernah," Kirana menjawab pendek, matanya menghindari sorot kamera seorang fotografer keliling yang menawarkan jasa cetak instan.
"Sama pacar?"
"Nggak."
"Sama mantan?" Cakra melirik dari sudut mata.
"Nggak."
"Sama gebetan?"
"Nggak," Kirana mempercepat langkah satu senti.
Cakra menggeser posisinya lebih dekat, bahunya hampir bersentuhan dengan lengan kemeja putih Kirana. "Masa remaja Mbak menyedihkan juga ya."
Jemari Kirana bergerak cepat, mencubit keras kulit lengan jaket Cakra. Cakra meringis, menarik tangannya.
Mereka berhenti di depan kelompok topeng monyet. Tawa Cakra pecah, diredam suara tabuhan kendang. Kirana memalingkan wajah ke arah deretan jendela tinggi bangunan tua, menyembunyikan senyum yang tertahan di sudut bibirnya.
Udara dingin dari mesin pendingin ruangan sentral menyergap begitu mereka melintasi pintu kayu ganda setinggi tiga meter salah satu museum seni. Aroma kayu jati yang menua, bau cat minyak yang kering, dan pengap khas dari ruangan yang mengurung benda-benda sejarah menggantikan bau asap knalpot dari luar.