Gerimis tipis yang turun menyisakan lapisan basah di atas permukaan kontainer jingga yang bertumpuk tiga di ujung pangkalan besi tua. Aroma karat yang pekat menguar, berbaur dengan bau tanah basah dan sisa solar dari mesin forklift yang menderu pelan di seberang tanggul. Di bawah siraman lampu sodium kuning yang bergoyang ditiup angin, genangan air di sela-sela tumpukan pelat baja memantulkan pendar cahaya yang buram.
Cakra duduk di atas salah satu pelat baja setinggi pinggang, sepasang sepatu botnya yang berlumpur menggantung longgar. Tangannya meraba saku celana kargo hitam.
Cahaya biru menerangi wajah Cakra di tengah kegelapan pangkalan. Cakra menggeser layar dengan ibu jari. Matanya menatap pesan yang masuk saat ia berkencan dengan Kirana.
Besok 19.15
Bioskop Metropole.
Citra.
Identifikasi kontak.
Ibu jari Cakra menekan tombol hapus secara permanen. Layar kembali gelap, pantulan wajahnya diam di atas layar ponsel.
Angin malam kembali berembus, seng di atas pos jaga berderit pendek. Cakra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu melompat turun dari pelat baja.
"Kalau gampang berarti jebakan," gumamnya pelan, nyaris tenggelam deru mesin forklift yang menjauh ke arah dermaga logistik.
Lampu-lampu belakang mobil sedan dan bus kota membakar aspal Jalan Salemba. Gerimis belum sepenuhnya reda, kabut tipis menempel di kaca-kaca besar armada Transjakarta yang bergerak lambat membelah kemacetan. Bau payung basah dan keringat orang-orang kantoran bercampur di dalam kabin, Cakra berdiri di dekat pintu belakang, satu tangannya mencengkeram besi pegangan di langit-langit bus.
Armada berhenti di halte terdekat, ia melangkah keluar, menyusuri trotoar batu. Tudung hoodie gelapnya ditarik rendah menutupi batas dahi.
Matanya bergerak setiap sepuluh langkah, menatap pantulan kaca spion motor yang terparkir di tepi jalan, menyisir bayangan di balik pilar-pilar beton jembatan penyeberangan, dan mengukur jarak pejalan kaki di belakangnya.
Bangunan bioskop tua berarsitektur kolonial berdiri kokoh di bawah siraman lampu neon putih dan jingga yang berpendar dari deretan papan judul film. Kerumunan sabtu malam mulai memadat di area selasar depan, pasangan muda saling berbisik di dekat mesin tiket otomatis, keluarga kecil membawa kantung popcorn beraroma karamel manis, dan aroma mentega yang menguar kuat dari sudut kafetaria.
Semua orang bergerak dengan fokus masing-masing. Mata mereka tertuju ke layar ponsel, poster film horor terbaru, atau jadwal tayang yang tertera di papan digital atas.
Cakra mendekati loket penandaan tiket yang sepi di sudut kiri. Tangannya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas, menerima kembalian bersama selembar kertas thermal tipis untuk jadwal tayang pukul tujuh lewat lima belas malam. Ia melangkah melewati pintu kaca ganda.
Di atas layar raksasa, trailer film aksi diputar, dentum bas menggetarkan dinding peredam. Cahaya dari layar berganti-ganti, putih benderang menjadi gelap gulita dalam hitungan detik.
Cakra bergerak tanpa suara menuju baris paling atas, kursi di sudut kiri bersandar pada dinding beton berlapis kain peredam.
Tepat dua menit sebelum lampu utama dimatikan sepenuhnya, Citra melangkah masuk dari pintu samping, mengenakan blus katun sewarna sabana dan celana denim longgar, rambutnya dibiarkan jatuh menutupi sebagian bahu kirinya. Ia melangkah lurus menuju baris F, lalu duduk tepat di tengah-tengah kursi nomor empat belas.
Punggung Citra bersandar tegak, tangannya tetap diam di atas pangkuan, tidak menyentuh ponsel atau bungkusan makanan ringan. Matanya menatap lurus ke arah layar yang menampilkan logo distributor film.