Udara pengap di lantai dua gudang logistik milik Nicholas seperti tersedot habis ratusan kipas pendingin dari deretan rak server yang berjejer di sepanjang dinding barat. Suara dengung mekanisnya bersahutan dengan bunyi ketukan keyboard mekanik dari puluhan bilik operator pinjaman online. Cahaya matahari sore menyelinap masuk lewat sela-sela ventilasi besi, memotong kepulan asap rokok yang mengambang di tengah ruangan.
Di atas meja kayu panjang, tiga orang duduk mengelilingi gunungan kertas manifes bank, struk transfer, dan tiga kalkulator. Di sudut meja, sebungkus pisang goreng yang sudah mendingin, bersebelahan dengan beberapa saset kopi instan yang sudah robek.
Juki mencoret baris angka di atas kertas dengan pulpen. Di sebelahnya, ujung jempol Baron menekan tombol-tombol kalkulator .
"Tunggu," Juki menahan ujung pulpennya di atas kertas.
Baron tidak berhenti menekan tombol. "Apanya?"
"Ini kenapa beda lagi?" Juki menarik kertas lebih dekat ke hidungnya, matanya menyipit.
"Yang beda yang mana, Elah?" Baron mendengus, menekan tombol Clear.
"Setoran Medan."
"Berapa?"
"Dua ratus tujuh puluh tiga." Telunjuk Juki mengetuk angka tersebut.
"Di gue dua ratus enam puluh," Baron memutar layar kalkulatornya ke arah Juki.
Juki melempar pulpennya ke atas meja, menggelinding ke dekat cangkir kopi. "Lah, kok bisa?"
"Lo yang tadi ngitung," Baron melotot, bahunya condong ke depan.
"Lo yang megang kertas!"
"Ya gue megang doang, kunyuk."
"Berarti lo ngawasin!" Suara Juki meninggi, memotong deru kipas server.
Baron menggebrak meja. "Ngawasin bukan berarti ikut ngitung!"
"Kalau lo ngawasin terus hasilnya salah, berarti salah lo juga!"
Ragang Baron mengeras, urat lehernya menyembul di balik kaos singletnya. "Logika apaan itu, hah?"
Cakra duduk di ujung meja tetap mengunyah potongan pisang goreng dinginnya. Matanya menatap kosong ke arah grafik fluktuasi deposit masuk dari wilayah sumatera di layar monitor.
"Cak," Juki menyodorkan kertas penuh coretan itu ke depan wajah Cakra.
"Hm?" Cakra menelan sisa makanan di mulutnya.
"Lo ngitung deh. Puyeng gue."
Cakra mengambil kertas di depannya. Matanya menyusuri baris angka tinta hitam yang saling tumpang tindih. Lima detik berlalu. Sepuluh detik. Cakra memutar kertas itu.
"Ini tujuhnya kebalik, Bang," Cakra menunjuk garis melengkung yang menyerupai huruf J patah.
Baron melongokkan kepalanya. "Hah?"
"Ini angka satu," sambung Cakra datar.
Juki terdiam, tangannya yang hendak mengambil rokok membeku di udara. Baron menatap tulisan tangan itu, lalu menatap wajah Juki.
Joni berdikir di dekat jendela kaca yang berdebu, tangan kanan memegang rokok, baranya nya sudah memanjang. Ia mengembuskan asapnya ke arah kaca.
"Gue pernah jagain kambing yang lebih pinter," suara Joni rendah.
Baron menyandarkan punggungnya ke kursi plastik. "Anjing."
Cahaya oranye di luar jendela digantikan pendar lampu neon putih panjang yang berkedip beberapa kali sebelum menyala sempurna di dalam ruang bawah tanah gudang. Suara operator judi online yang memaki-maki monitor karena ada pemain yang berhasil melakukan withdraw besar-besaran, diselingi bunyi ketukan keyboard yang berkejaran dengan waktu.