Matahari Sabtu siang membakar aspal sepanjang jalur pejalan kaki di kawasan Senayan. Setelah seminggu penuh dikepung mendung dan gerimis kelabu, langit Jakarta bersih dari awan, menyisakan hamparan warna biru muda yang membentang di atas pucuk-pucuk pohon ketapang.
Kirana duduk di salah satu bangku taman. Jari-jarinya bergerak lambat di atas layar ponsel, menggeser beranda media sosial tanpa benar-benar membaca baris teks yang lewat. Setiap dua puluh detik, pandangannya terangkat, menyisir siluet pejalan kaki yang keluar dari tangga stasiun bawah tanah, lalu melirik arloji kecil berstrap kulit di pergelangan tangan kirinya.
Cakra berjalan mendekat. "Maaf lama," Cakra berujar pelan, tangannya bergerak merapikan tali ransel.
Kirana mengunci layar ponselnya, memasukkannya ke dalam tas selempang kecil, lalu mendongak menatap wajah pria di depannya. "Kamu telat dua menit."
Cakra melirik pergelangan tangannya sendiri yang kosong, tidak mengenakan jam. "Saya pikir saya duluan, udah jalan cepet padahal."
"Berarti jam kamu salah," Kirana berdiri, merapikan lipatan gaunnya.
"Atau jam mba yang kecepetan." Cakra berbalik setengah badan.
Mereka mulai berjalan beriringan. Langkah kaki Cakra melambat. Angin siang kembali berembus, menerbangkan beberapa lembar daun ketapang kering yang jatuh berputar di depan ujung sepatu mereka.
Pintu kaca ganda terbuka secara otomatis, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan raksasa yang menghapus sisa keringat di dahi. Alunan musik instrumental dari piano mengalun lirih dari pengeras suara yang tersembunyi di langit-langit. Bau khas dari lembaran kertas baru dan tinta cetak menguar kuat.
Kirana membelokkan langkahnya ke arah kanan, menyusuri deretan rak tinggi berlabel fiksi dan novel terjemahan. Jemarinya menyentuh punggung-punggung buku yang berjajar rapi, matanya bergerak menyisir judul demi judul.
Di seberang lorong, Cakra berdiri di depan meja bundar, tumpukan buku-buku bekas berlabel potongan harga di atas meja. Tanganny membalik buku bersampul Cara Mengelola Keuangan Keluarga secara Efektif dan Mandiri.
Kirana melongokkan kepalanya dari balik rak fiksi, menatap tumpukan buku di depan Cakra. "Kamu baca begituan?"
Cakra mengangkat buku yang dipegangnya setinggi dada.
Kirana menahan senyum di sudut bibirnya, tubuhnya bersandar sepenuhnya pada tepi rak kayu. "Kamu umur dua puluh lima apa empat puluh lima?"
"Saya cuma pengen tau kenapa orang miskin selalu miskin," sahut Cakra tanpa menoleh, matanya membaca daftar isi di halaman depan buku tersebut. "Di sini tertulis karena masalah pengelolaan alokasi dana mikro."
Kirana tertawa lepas, seorang pengunjung di dekat mereka menoleh sekilas. Ia melangkah mendekat, membawa buku bersampul merah muda pastel dengan ilustrasi dua siluet manusia di bawah rintik hujan.
Cakra mengalihkan pandangannya dari buku, menatap sampul buku di tangan Kirana. "Ini buku strategi perang?"
"Ini novel," Kirana membalik buku, menyodorkan sinopsis pendek di bagian belakang.
Cakra mengambil buku dari tangan Kirana, membacanya setengah menit. Alisnya menyatu saat matanya menyusuri baris demi baris ringkasan cerita tentang sepasang kekasih yang terpisah jarak karena kesalahpahaman profesi. "Kenapa orangnya miskom terus di setiap bab? Ini di halaman tiga puluh mereka harusnya tinggal telepon."
"Karena kalau mereka ngobrol lima menit, bukunya selesai di bab dua," Kirana melipat kedua tangannya di depan dada.
Cakra tertawa keras, pundaknya turun. Ia mengembalikan novel ke tangan Kirana, lalu menaruh kembali buku pengelolaan keuangan keluarga ke atas tumpukan bekas.
Uap putih aroma kaldu ayam dan minyak bawang mengepul dari mangkuk keramik tebal di atas meja kayu. Warung ramen di sudut gang belakang mal ini memuat empat meja panjang, kursi kayu berkaki pendek, dindingnya dipenuhi coretan spidol dari pengunjung terdahulu. Suara bising dari kompor tekanan tinggi di dapur terbuka terdengar diselingi dentang pelat besi tempat koki meniriskan mi.
Mereka duduk berhadapan. Kirana memisahkan sumpit bambu dengan satu hentikan tangan, matanya mengamati mangkuk mi miliknya yang dipenuhi irisan daun bawang dan telur setengah matang.
"Kamu sengaja pilih tempat murah?" Kirana mencelupkan ujung sumpitnya ke dalam kuah kental kecokelatan.
Cakra mengambil botol sambal bubuk, mengguncangnya dua kali di atas mangkuknya sendiri. "Iya."
"Kenapa?"
"Kalau enak saya bisa balik lagi sendiri tanpa mikirin sisa saldo minggu depan." Cakra menarik beberapa helai mi dengan sumpitnya, lalu meniupnya pelan.
Kirana menatap Cakra yang sedang mengunyah dengan tenang, lalu senyuman kecil muncul di wajahnya.
Uap mi terus mengepul di antara mereka, mengaburkan pandangan. Seiring berjalannya waktu dan berkurangnya isi mangkuk, obrolan mengalir tanpa ada interupsi dari dering telepon.
Lampu-lampu LED berwarna merah, biru, dan hijau neon berpendar dari deretan mesin permainan yang memenuhi lantai dasar pusat hiburan keluarga. Suara dentum musik elektronik berpita rendah bersahutan dengan bunyi dentang koin yang jatuh ke dalam wadah besi. Anak-anak berlarian di antara mesin balap mobil, beberapa remaja berkumpul di depan mesin dansa.
Kirana menghentikan langkahnya di depan kotak kaca besar yang diterangi lampu neon putih terang. Puluhan boneka kapibara berwarna cokelat dengan hidung bulat besar bertumpuk di dalam kotak.
"Lucu," Kirana menempelkan ujung jarinya di permukaan kaca, matanya tertuju pada salah satu boneka yang posisinya paling dekat dengan lubang keluar.
Cakra berdiri di sampingnya, melirik sekilas ke dalam kotak kaca. "Boneka doang."
"Saya mau itu," Kirana menoleh, menatap Cakra tanpa berkedip.
Cakra menghela napas pendek, meraba saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas sepuluh ribuan. Ia melangkah menuju mesin penukar koin, lalu kembali dengan segenggam koin logam di telapak tangan kanannya. "Gampang. Ini cuma masalah kalkulasi sudut tarik."