Embun pagi sisa hujan semalam masih menempel tebal di permukaan luar kaca gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus. Siluet pepohonan mahoni di halaman Polda Metro Jaya bergoyang dihantam angin. Di dalam ruangan Sub-direktorat Siber.
Cahaya lampu tabung fluoresen putih memantul lurus di atas lantai vinil abu-abu, PBarisan kode, grafik flutkuasi lalu lintas dan peta digital interaktif wilayah pelabuhan berkedip dari puluhan monitor lengkung di atas meja.
Pintu kaca tebal berdesis pelan saat mekanisme kunci magnetik terbuka. Kirana melangkah masuk, kedua tangannya melingkari cangkir keramik putih kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis.
Rani sudah duduk menghadap tiga monitor, tidak memalingkan wajah dari barisan log enkripsi. Sudut bibirnya bergerak naik, jemarinya berhenti mengetuk keyboard mekanik.
"Pagi, Komandan," suara Rani memecah kesunyian ruangan, nadanya ditarik sedikit lebih panjang di bagian ujung.
Kirana meletakkan cangkir kopinya di atas tatakan kayu, tepat di sebelah mouse nirkabelnya. "Pagi."
Rani memutar kursi kerjanya, menopang dagu dengan satu tangan, matanya menyipit, mengamati garis wajah Kirana yang bersih dari kerutan ketegangan. "Senyum-senyum sendiri. Ada yang dapet lampu hijau dari satelit?"
"Nggak," Kirana menarik kursi kerjanya mendekat ke meja. Tangannya bergerak cepat membuka folder enkripsi harian, menghindari tatapan Rani yang masih tertuju padanya. Telinganua memerah.
"Saya nggak bilang apa-apa loh, Komandan," Rani terkekeh pelan, memutar kembali kursinya menghadap monitor utama. "Cuma aneh aja melihat meja ini nggak dipenuhi remasan kertas bekas draf laporan yang salah."
Kirana tidak menyahut. Jari-jarinya menekan tombol Enter. Di bawah meja, ujung sepatunya bergerak-gerak kecil.
Bunyi klik mekanis dari gagang pintu utama menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan. Kombes Hermawan masik membawa map kulit hitam tebal. Seluruh personel di dalam ruangan menegakkan punggung serentak. Rani menekan tombol kombinasi di papan ketiknya, mengubah tampilan monitor sekunder dari log pribadi menjadi antarmuka sistem pengawasan terpadu.
"Laporan," Hermawan berdiri di ujung meja, meletakkan map kulitnya. Matanya menatap lurus ke arah layar proyeksi utama di dinding tengah.
"Izin, Komandan," Rani memulai presentasi.
Foto truk kontainer terparkir dengan pola melingkar muncul di layar. "Belum ada perubahan struktural lapisan organisasi Mahardika. Nicholas tetap mengendalikan seluruh aliran dana masuk dari konsesi perjudian wilayah barat, Baskoro mengunci jalur logistik fisik melalui Pelabuhan Tanjung Priok."
"Pergerakan logistik masih stabil dalam radius aman. Tidak ada anomali volume kontainer yang masuk melewati gerbang bea cukai tier tiga."
Rani menunjuk rekaman CCTV dari sudut dermaga logistik sekunder. Beberapa pria memindahkan peti kayu ringan di bawah siraman lampu sorot kapal. "Tidak ada transaksi besar atau pergerakan likuiditas instan dalam dua minggu terakhir. Semua rekening penampung bergerak dalam batas batas nominal harian yang biasa mereka gunakan untuk mengelabui sistem pelaporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan."
Hermawan mengangguk sekali. Tangannya bergerak ke atas meja, jemarinya mengetuk permukaan kayu. "Pertahankan pengawasan di lini itu. Jangan sampai ada pergeseran aset yang luput sebelum tim tindak bergerak."
Rani menekan tombol kendali lagi. Layar berkedip. Suara putaran kipas pendingin server mendadak lebih nyaring saat layar menampilkan potongan video CCTV dengan resolusi 1080p. Cakra melangkah membelah barisan tumpukan besi tua di Hanggar Nicholas.