BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #39

39. LANTAI 9

Cakra berdiri diam di dekat tiang lampu jalan yang belum menyala, punggungnya bersandar pada pagar besi pembatas trotoar. Kedua tangannya masuk ke saku celana jins hitam, matanya menatap lurus ke arah ujung sepatunya sendiri.

Suara ketukan tumit sepatu datar terdengar dark arah kanan, Cakra mengangkat kepala lambat. Kirana berjalan mendekat, tas selempang kecil menggantung di bahu kiri. Rambutnya sedikit berantakan ditiup angin. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Cakra.

"Saya lagi males pulang." Kirana memecah kesunyian.

Alis Cakra bertaut, menatap wajah guratan lelah di sudut kelopak matanya

Cakra memutar tubuhnya, mengarahkan pandangannya menuju tangga beton stasiun bawah tanah yang terbuka lebar di ujung blok, lalu berjalan beriringan dengan langkah sepatu Kirana.

Desis angin bertekanan tinggi dari terowongan semen bercampur dengan dengung konstan generator listrik menyambut mereka begitu melewati gerbang tarif otomatis.

Kirana berjalan di depan menuju peron, jemarinya menggenggam erat tali tas selempangnya. Suara gemuruh menggetarkan lantai keramik saat kereta MRT tiba, arus penumpang mendorong mereka masuk ke dalam gerbong yang penuh sesak.

Kirana berdiri di tengah gerbong, tangan kanannya terangkat meraih salah satu gantungan tangan plastik yang berayun mengikuti percepatan kereta. Ketika kereta berbelok tajam membelah jalur bawah tanah, tubuhnya limbung ke belakang, belikatnya membentur bidang dada Cakra yang berdiri di belakangnya.

Cakra menurunkan pandangannya sedikit, memperhatikan jemari Kirana yang mencengkeram gantungan plastik. "Mbak pernah naik beginian?"

Kirana menatap lurus ke arah jendela kaca gerbong. "Pernah."

"Terakhir kapan?"

Tatapan Kirana bergerak mengikuti barisan lampu indikator rute stasiun yang berkedip di atas pintu gerbong..

Cakra mendengus. "Mbak pasti belum pernah kan". Ia tertawa pelan.

Kirana melirik Cakra di belakangnya melalui sudut mata, kedua bibirnya rapat, cengkeraman tangannya pada gantungan plastik melonggar.

Uap minyak panas yang bercampur dengan aroma bakaran arang dan potongan daun bawang langsung menyergap indra penciuman begitu mereka melangkah keluar dari undakan tangga stasiun di kawasan Blok M. Suara bising dari bilah kipas angin plastik kecil yang berputar tidak stabil bersahutan dengan dentang sudit besi yang menghantam permukaan wajan baja raksasa.

Mereka duduk berhadapan di atas kursi plastik biru yang salah satu kakinya diganjal lipatan kardus lecek agar tidak goyang. Permukaan meja kayu di depan mereka dilapisi taplak plastik bermotif kotak-kokok yang agak lengket oleh sisa uap lemak. Di sudut meja, sebuah ember plastik kecil berwarna merah berisi sambal korek diletakkan berdampingan dengan wadah garam yang penutupnya sudah hilang.

Dua potong ayam goreng bumbu kuning bertengger di atas nasi putih.

Kirana menjumput sambal dari ember kecil menggunakan ujung sendoknya, lalu menaruhnya di tepi piring sebelum menyuap potongan daging pertama bersama nasi. Ia mengunyah pelan, pada hitungan ketiga, seluruh otot di sekitar lehernya menegang. Matanya melebar, dan rona merah jambu merayap naik dari pangkal leher menuju kedua pipinya.

Ia meraih gelas kaca tebal berisi es teh tawar di samping piringnya, meminumnya hingga tersisa separuh dalam satu tegukan panjang. Napasnya terdengar berat dan cepat melalui hidung yang memerah.

Cakra mengunyah sepotong tahu goreng, menatap perubahan ekspresi di wajah Kirana. "Mbak kepedesan?"

Kirana menaruh gelasnya kembali di atas meja, tangannya bergerak cepat menarik selembar tisu dari kotak plastik, menyeka butiran keringat yang muncul di pelipisnya. "Nggak. Cuma... cabainya agak banyak."

Lihat selengkapnya