Pintu apartemen menutup, deru AC berdesis pelan di sudut atas dinding. Kirana melangkah ke ruang tengah, tangannya terulur ke sakelar, menyalakan lampu utama. Tas selempang di bahunya dilepas, dijatuhkan ke atas meja.
Dia membalikkan badan. Cakra berdiri di dekat rak sepatu. Ujung jaketnya meneteskan air ke lantai.
"Keringin badan kamu dulu," Kirana menatap lurus mata Cakra. "Nanti saya cari kaos buat kamu."
"Saya pake kaos mbak?" Alis Cakra mengernyit. "Emang muat?"
"Kaos saya oversize semua. Harusnya muat." Kirana berbalik, menuju dapur. "Kecuali badanmu kaya Ade Rai."
Cakra menarik napas pendek, kakinya bergerak masuk ke kamar mandi di sudut kamar.
Suara air di kamar mandi terdengar samar dari meja dapur. Kirana meletakkan teko di atas kompor, memutar tuas. Api biru menyala, bergeral pelan.
Pintu kamar mandi terbuka. Cakra keluar tanpa kaos, hanya mengenakan celana hitam melorot sedikit di pinggang. Handuk putih tersampir di kepala. Ia menggosok rambutnya yang basah sambil melangkah keluar. Tetesan air jatuh ke lantai satu per satu, meninggalkan jejak gelap di atas ubin.
Kirana menoleh saat mendengar langkah kaki Rizal. Gerakan adukan sendok di cangkir kopi terhenti. Kulit di bahu dan dada Cakra dipenuhi bekas luka tipis, beberapa memanjang, beberapa membentuk garis patah yang tidak rata. Sisa air mandi mengalir mengikuti lekuk otot tubuhnya, turun pelan ke perut, lalu hilang di balik pinggang celana kargonya.
Cakra berhenti menggosok rambut. Matanya beralih ke Kirana. “Kenapa?”
Kirana tersentak, pupil matanya mengecil, ia segera membuang muka kembali ke cangkir di depannya.
"Ahh, Nggak." Ia berdehem pelan.
"Mbak bikinin saya kopi?" Cakra melangkah mendekat.
"Iya," wajah Kirana memerah.
Cakra berbalik, menuju sofa di ruang tengah, tangannya terulur meraih remot tv. "Saya nonton tv boleh mba?"
"Iya," Kirana masih mengaduk kopi.
Cakra menekan tombol daya, televisi menyala. Saluran lokal menayangkan adegan makan malam Brad Pitt dan Angelina Jolie. Kepalanya bergerak ke arah Kirana. "Mba, itu sendoknya udah tawaf berapa kali di cangkir?"
Gerakan tangan Kirana berhenti. Ia berbalik, berjalan menuju sofa. Ia meletakkan cangkir kopi di atas meja, lalu duduk bersandar di samping Cakra.
Pandangannya beralih dari layar tv ke wajah Cakra. "Kamu pernah nonton film ini?"
"Mr and Mrs Smith?" Cakra menoleh sebentar. "Pernah mba, seru filmnya." Ia beralih lagi ke layar televisi.
"Ceritanya lucu ya." balas Kirana masih menatap wajah Cakra. "Pasangan suami istri yang nyamar satu sama lain."
"Iya, tapi akhirnya mereka bersatu buat ngelawan kelompoknya," sahut Cakra tanpa menoleh.
Pantulan cahaya dari layar tv bergerak di wajah Cakra. Kirana menatap lurus tanpa berkedip. "Cakra."
"Hmm," tangan Cakra terulur meraih cangkir kopi.
"Kalau misalnya kita ada di posisi mereka." Ia menjeda kalimatnya.
Cangkir kopi terhenti di ujung bibir Cakra.
"Apa yang akan lakukan?" lanjut Kirana.
Cakra menurunkan cangkir kopi ke atas meja tanpa meminumnya. Ia menoleh, menatap lurus mata Kirana. "Kalau saya ada di posisi mereka?"
Kirana mengangguk pelan.
"Saya...."
Suara mobil menabrak pagar kayu di televisi mengisi kekosongan di antara mereka.
"Saya akan pastikan mba Kirana tetap hidup."