Sinar matahari jam sembilan pagi jatuh tegak lurus di atas atap seng pangkalan, televisi menyala tanpa suara. Suara knalpot dari sepeda kurir terdengar keras.
Cakra duduk di atas undakan semen teras pangkalan. Kedua lengannya bertumpu di atas lutut, jemarinya melingkari gelas kopi.
Suara gesek lemabaran kertas terdengar dari dalam ruangan. Baron dan Juki duduk berhadapan di sisi meja kayu.
"Kurang dua ratus," Juki melempar pulpen plastik ke atas meja. "Setoran anak-anak jalur timur macet di lampu merah. Alasan mereka klasik, kena tilang."
"Mana ada tilang jam segitu," Baron mendengus, tangannya bergerak meremas bungkus rokok yang sudah kosong. "Mereka pakai buat judi slot lagi itu. Entar sore biar gue samperin."
"Goblok ya, bos kita kan bandarnya." sahut Juki.
"Makanya." Matanya bergerak melewati celah pintu yang terbuka, menatap punggung Cakra.
Joni berdiri bersandar pada dinding. Rokok kretek dijepit diantara telunjuk dan jari tengahnya, asap putih tebal mengepul lambat dari ujungnya, matanya menatap lurus ke arah Cakra.
Baron menoleh sedikit ke Juki, dagunya menunjuk ke luar pintu. "Si Berondong kenapa?"
Juki masih sibuk memungut pulpennya yang jatuh. "Patah hati."
"Emang punya hati?" Baron mendengus, menarik napas pendek.
"Juki mengangkat bahu. "Tanya orangnya aja."
Baron memutar tubuhnya, beralih menatap Joni memandangi kepulan asap rokoknya sendiri. "Kenapa tuh anak, Jon?"
Joni menarik rokoknya dari bibir, menjentikkan abu ke dalam kaleng bekas di samping dispenser. "Gue bukan paranormal."
"Biasanya berisik, nyari perkara." Baron melipat kedua tangan di atas dada.
"Makanya."
"Makanya apa?"
Joni mematikan ujung rokoknya ke dinding kaleng. "Berarti lagi mikir."
Cakra mendengar setiap kata yang keluar dari dalam ruangan. Bahunya bergerak naik, ia menarik napas panjang, matanya menatap tumpukan besi karat di seberang jalan. Ia meletakkan cangkir kaleng perlahan.
Ponsel Cakea bergetar di dalam saku celana.
Cakra merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Satu notifikasi pesan masuk muncul di bilah atas.
Gedung Parkir, Sektor 3, Jakarta Pusat.
Mata Cakra menyisir barisan pesan. Ibu jarinya bergerak menekan tombol hapus. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menegakkan tubuhnya.
"Mau ke mana lo?" tanya Baron sambil menggosok pisau lipatnya di atas batu asahan.
Cakra meraih jaket hitam yang tersampir di pagar besi pembatas. "Keluar bentar."
"Kencan lagi?" Juki menyahut dari sudut meja, sebelah matanya menyipit.
"Nggak." Cakra menyampirkan jaketnya di bahu kiri.
"Boong." Juki terkekeh pendek.
"Pasti boong," timpal Baron, tangannya terus menggesek mata pisau ke atas batu asahan.
Cakra hanya tertarik sedikit. Langkah kakinya bergerak meninggalkan pangkalan. Joni menatap punggung Cakra yang mulai menjauh, menghilang di balik tikungan jalan.
Aroma kuah soto dan campuran keringat bercampur di dalam warung makan. Cakra duduk di sudut paling belakang, membelakangi cermin besar. Ia menggeser piring kosong di atas meja, mengeluarkan kertas dan pulpen dari dalam saku jaketnya.
Ujung pulpennya mulai bergerak, menggores tinta hitam, menulis daftar nama di atas kertas.