Cakra melangkah keluar dari ramp melingkar gedung parkir, sepatunya mengetuk permukaan semen kasar yang kering. Bau pembakaran solar dan debu jalanan menerpa wajahnya, ia menatap arus kendaraan di depan. Tangan kirinya bergerak ke balik jaket, memastikan lipatan map plastik biru dari Aris tenggelam sepenuhnya di kedalaman saku dalam.
Deru mesin diesel mendadak memotong jalur trotoar tepat dua meter di hadapan Cakra. Mobil pikap hitam dengan bak terbuka meliuk kasar, ban depannya membentur bumper pembatas jalan.
Kaca jendela samping diturunkan dari dalam. Wajah Baron muncul dari balik kemudi, tangannya mencengkeram lingkar setir, urat lengannya menonjol. Di bangku penumpang, Juki bersandar mengisap rokok kreteknya, Joni duduk diam di sisi pintu sebelah kiri, matanya menyipit menembus pantulan siluet kaca depan yang berdebu.
Baron meludah ke luar jendela, matanya melebar menatap Cakra yang berdiri di tepi undakan. "Anjing."
Juki menoleh lambat, membuang puntung rokoknya ke atas bak pikap.
"Cepet banget lo udah di sini," Baron mematikan mesin mobil.
"Getol banget ama duit," Juki membuka pintu pikap, kaki turun ke aspal, lalu meregangkan bahunya yang kaku. "Gue baru bangun sejam lalu."
Baron melompat turun dari kabin kemudi, ia mengelap lehernya dengan handuk kecil. "Dia udah kerja. Kupingnya tajem kalau denger bau umpan."
Cakra menarik napas pendek, rahangnya bergerak kecil. Bibirnya terbuka setengah .
BRAAAAAK.
Benturan logam berdensitas tinggi menghantam permukaan atap mobil. Suara ledakan struktur mobil beradu dengan pecahan ribuan kristal kaca yang memercik liar ke segala arah, menghantam tiang listrik dan trotoar. Alarm sistem pengaman dari sedan abu-abu yang terparkir di bahu jalan meraung nyaring.
Semua kepala di sekitar area trotoar berputar serempak.
Sedan abu-abu itu ringsek seketika. Bagian atap tengahnya melesat ambles ke dalam kabin, sejajar dengan sandaran kursi. Kaca depan mobil itu memutih, retak membentuk jaringan sarang laba-laba raksasa.
Tubuh Aris terlentang di atas atap mobil. Satu kaki kirinya menekuk patah ke arah luar. Jari-jari tangannya bergerak mengejang sekali di atas sisa permukaan kaca yang hancur. Darah kental pekat merembes dari sela rambutnya, mengalir membelah kap mesin mobil, lalu menetes ke atas aspal panas.
Suara klakson dari kejauhan mendadak lenyap, tertelan raung alarm mobil yang memekik telinga.
Joni berdiri diam di samping pintu pikap, matanya melebar tanpa berkedip, rokok baru di jarinya hancur teremas. Cakra tetap di tempatnya berdiri, kedua tangannya tenggelam di saku jaket, otot rahang bawahnya menonjol keras, kulitnya memutih. Mulut Baron terbuka setengah, Juki menurunkan perlahan batang rokok dari bibirnya.
"...anjing," Baron menatap lurus tubuh Aris.
Mata Juki bergerak menelusuri aliran darah yang mulai menggenangi ban depan sedan.
Baron menoleh ke arah Joni, lalu kembali menatap gundukan daging di atas atap mobil. "Bukannya... bukannya kita disuruh nangkep hidup-hidup itu orang?"
Suara teriakan yang teredam dan deru langkah kaki yang bergesek kasar di atas beton terdengar dari arah langit-langit terbuka lantai tertinggi gedung parkir.
Cakra mendongak lebih dulu. Gerakan kepalanya diikuti oleh Joni, kemudian Baron dan Juki yang ikut menggeser posisi berdiri mereka ke luar dari bawah kanopi trotoar.
Di pagar pembatas lantai tujuh, beberapa siluet manusia berdiri berjejer, menunduk menatap ke bawah. Salah satu dari mereka bersandar di pagar pembatas, kedua lengannya di atas besi pelindung.
Pria di atas itu menjulurkan kepalanya, lalu berteriak keras membelah angin siang. "WOI!"
Baron menyipitkan mata, tangannya mengepal di samping paha. "Itu anak-anak gudang logistik Baskoro."
Suara tawa lepas terdengar memantul di dinding luar gedung parkir, bersahutan di antara deru angin siang. Pria di atas melambaikan tangannya ke arah pikap hitam di bawah.
"Lambat amat lo bertiga!" teriak suara dari lantai tujuh.