BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #43

43. ARISAN

Aroma solar mentah dan karat besi mengendap pekat di dalam gudang. Tiga lampu sorot halogen kuning yang digantung di bawah atap setinggi sepuluh meter. Rantai kapal berayun lambat ditiup angin pesisir, bayangan raksasa bergerak di atas tumpukan palet kayu dan kontainer logistik.

Baskoro Mahardika duduk di atas kursi sofa samping meja billiard, satu kakinya ditumpangkan ke atas lutut yang lain. Setelan kemeja sutra motif garis terbuka tiga kancing teratas. Nicholas Mahardika berdiri bersandar di meja biliar, jari telunjuknya mendorong bingkai kacamata di atas hidungnya. Puluhan pria berkumpul membentuk lingkaran besar.

Baskoro mengayunkan tangan kanannya ke udara. Koper aluminium perak diletakkan di atas meja biliar, lalu dibuka keras, tumpukan lembaran uang merah diikat pita plastik ketat mencuat keluar.

"Buat anak-anak yang tadi siang mainnya bersih di atap," suara Baskoro berat. Cerutu di jarinya menunjuk koper. "Ambil jatah lo pada."

Tepuk tangan riuh dan siulan melengking pecah dari barisan depan. Empat pria yang tadi berada di gedung parkir maju.

Baskoro terkekeh, mengisap cerutu, ujungnya membara merah terang. Ia menegakkan punggung, telapak tangannya menepuk lututnya dua kali.

"Karena malam ini hati gue lagi bagus, kita bikin satu permainan lagi," Baskoro menunjuk kaleng cat bekas di sudut panggung. "Kita bikin arisan. Semua yang ada di dalam hanggar ini, tanpa terkecuali, tulis nama lo masing-masing di kertas. Masukin ke dalam kaleng."

Anak-anak buah Baskoro saling pandang, beberapa tertawa kecil, merogoh saku mencari pulpen.

"Hadiahnya apa, Bos?" teriak seseorang dari barisan belakang.

Baskoro tersenyum tipis, tangan kirinya bergerak lambat menyentuh holster kulit yang menyembul dari balik kemeja sutranya. "Sesuatu yang bikin lo pada nggak perlu narik kurir lagi bulan depan. Tulis sekarang."

Potongan-potongan kertas kertas mulai dibagikan dari barisan depan, beralih dari satu tangan ke tangan lainnya. Cakra mengambil selembar yang disodorkan padanya, lalu ikut menurunkan tubuhnya, duduk bersila di atas lantai semen bersama belasan orang lainnya. Map plastik biru dari Aris menekan tulang rusuknya di dalam jaket.

Seorang pemuda duduk gelisah di samping Cakra. Usianya tidak jauh berbeda dengan Cakra.

Pemuda itu memegang sebatang pulpen, menjepit ujung penutupnya di antara gigi. Matanya bergerak cepat melihat ke arah kertas buram di lantai, melirik bolpoin di tangannya, lalu beralih menatap samping wajah Cakra yang memutar-mutar pulpen.

Pemuda itu menggeser lututnya, mendekat hingga bahunya hampir bersentuhan dengan jaket Cakra. "Cak."

Cakra menghentikan gerakan bolpoinnya. Ia menoleh pelan. "Kenapa, Bang?"

"Gue nggak bisa nulis nama gue," bisik pemuda itu, dahi berkerut dalam.

Cakra mengernyitkan alis, menatap kertas kosong di tangan pemuda itu. "Hah?"

"Nama gue," pemuda itu mengulanginya, suaranya semakin rendah.

"Kenapa nama Abang?"

"Gue nggak tau cara nulisnya."

"Lah, gimana?" Cakra memiringkan kepala.

Pemuda itu menggaruk bagian belakang kepalanya. "Nama lahir gue Yuli Yohanda."

Cakra diam. Tatapannya tertahan pada kumis tipis dan jaket jins yang dikenakan pria di sebelahnya. "Itu nama cewek, Bang."

"Makanya," pemuda itu mengangguk cepat.

"Makanya?"

"Gue ganti." Pemuda itu menegakkan bahunya, ibu jarinya menunjuk lurus ke dadanya sendiri. "Christopher."

Lihat selengkapnya