Ketukan pendingin ruangan berkapasitas besar di sudut langit-langit bergetar. Di atas meja kerja kayu jati tebal, tumpukan map merah berlabel rahasia berdiri setinggi siku. Sinar lampu neon putih memantul di permukaan cangkir porselen kopi hitam yang.
Kirana menurunkan pandangannya dari papan tulis putih yang dipenuhi garis benang merah. Jemarinya saling berpaut di atas pangkuan, meremas lipatan celana kain hitamnya hingga membentuk kerutan dalam.
"Tiga hari, Pak. Saya cuma butuh beberapa. hari saja," suara Kirana serak, tertahan di tenggorokan.
Hermawan menatap layar monitor. Tangan kanannya menggenggam pulpen besi, mengetuk pinggiran meja.
"Kamu jarang minta jeda, Kirana. Bahkan waktu operasi di Jakarta Barat bocor tahun lalu, kamu orang pertama yang balik ke meja ini sebelum subuh," matanya menatap lurus ke arah Kirana, menelusuri lingkaran hitam yang menebal di bawah kelopak matanya.
Kirana menggeser posisi duduknya ke belakang. "Fokus saya agak pecah beberapa hari ini. Saya khawatir itu akan memengaruhi analisis data lapangan untuk tim."
Hermawan menarik napas panjang, bersandar ke kursi kulitnya. Pulpen besi di tangannya diletakkan di atas map merah. "Surat tugas kamu bisa saya tahan sampai hari Senin. Anggap saja sisa hak cuti tahunan yang belum sempat kamu ambil."
Kirana mengangguk kecil
Hermawan mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja.
"Sebelum kamu keluar dari pintu itu," Hermawan menjeda kalimatnya "Gimana perkembangan Cakra? Sudah ada laporan berkala yang masuk ke perangkat aman kamu?"
Kirana menahan napasnya. Ibu jarinya menekan kuku telunjuknya sendiri di bawah meja. "Dia masih di posisi yang sama, Pak. Masih nempel di jaringan logistik Baron. Belum ada pergeseran posisi ke arah lingkaran inti."
Hermawan menatap Kirana beberapa saat, ia mengangguk lambat. "Sampaikan ke tim kami, terus awasi dia."
"Siap, laksanakan." Kirana berdiri berjalan ke arah pintu.
Aroma minyak jenuh dan sambal terasi yang digoreng garing memenuhi udara warung makan tenda di pinggir jalan arteri itu. Suara gemuruh mobil yang melintas menuju jalur tol luar kota membuat gelas-gelas kaca di atas meja panjang bergetar. Matahari sore menembus celah-celah kain terpal biru.
Rian melempar tulang ayam ke sudut piringnya, lalu menyambar tisu, mengelap tangannya yang berminyak. "Kalau jalur timur beneran dikunci sama polda, berarti pasokan logistik mereka bakal dialihin lewat pelabuhan tikus di Marunda."
"Nggak bakal sempat," sahut Bimo sambil mengunyah sisa kerupuknya, matanya menatap peta digital di layar ponselnya. "Pak Hermawan udah siaga di lampu merah bypass. Siapa pun yang lewat sana tanpa manifes pangkalan pasti langsung dicegat."
Kirana duduk di ujung meja, memegang sendok tehnya. Ia tidak menyentuh piring nasi ramas di depannya. Pandangannya beralih ke luar tenda, menatap debu-debu jalanan yang beterbangan ditiup angin sore dan asap knalpot kendaraan.
"Komandan diem aja," Rian menyenggol siku Kirana pelan dengan punggung tangannya. "Nggak makan? Itu lele gorengnya keburu dingin."
Kirana menoleh lambat. "Saya agak mual dari siang. Kebanyakan minum kopi di ruangan Hermawan tadi."
"Mukamu pucat, Komandan," Bimo mendongak, menurunkan ponselnya ke atas meja. "Cutinya udah diapprove pak Hermawan, kan?"
Kirana menatap tiga anak buahnya bergantian.