Sinar matahari pagi menembus kaca jendela yang masih berembun, garis cahaya redup di atas seprai putih yang kusut. Cakra berdiri di samping tempat tidur, mengancingkan kemeja flanelnya. Ia membungkuk, meraih jaket hitamnya di lantai.
Kirana masih berbaring miring, menarik selimut biru tua sebatas pinggang, tubuh atasnya terbuka bebas, Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian pipinya, matanya menatap lurus ke tangan Cakra mengencangkan tali sepatu botnya.
Cakra menegakkan punggung, menoleh tanpa mendekat ke arah ranjang. "Jangan ke mana-mana hari ini. Tetap di sini sampai aku hubungi lagi."
Kirana menarik napas panjang, dadanya naik-turun, ia mengangguk sekali. "Aku tahu."
Tatap mata Cakra lurus ke mata Kirana. Ia mendekat, mengecup keningnya lama, lalu turun ke mulut. Bibir mereka bertaut, Kirana sesekali mengigit bibir bawah Cakra.
Kepala Cakra mundur, Kirana memajukan kepala, mengigit pelan bibirnya hingga bibir mereka terlepas.
Cakra berbalkk, melangkah keluar meninggalkan kamar. Mata Kirana menatap lurus ke arah pintu yang tertutup.
Bau apek semen basah dan tripleks yang mulai membusuk bercampur di udara. Cakra mendorong pintu kayu tripleks yang. Cahaya lampu pijar lima watt menggantung di tengah ruangan bergoyang pelan, menerangi debu-debu beterbangan di atas lantai.
Bayu duduk di atas kursi besi di sudut ruangan. Kabel tis hitam mengikat kedua tangannya ke belakang sandaran kursi. Wajahnya dipenuhi lebam keunguan yang sudah mulai menguning di bagian tepi.
Dua orang pria bertubuh tegap dengan potongan rambut cepak berdiri di sisi kiri dan kanan kursi. Ujung gagang senjata menyembul di balik pinggang.
Salah satu pria itu mengangguk, menurunkan pandangan dari jam dinding. "Lama amat lo. Ini bocah dadi subuh ngerengek minta minum."
Cakra melangkah mendekati Bayu, berhenti tepat dua jengkal di depan lututnya. Ia merendahkan tubuhnya, bertumpu dia kedua lututnya, posisinya sejajar dengan wajah Bayu yang menunduk.
"Pilihan lo cuma dua sekarang," suara Cakra datar. "Kasih gue ghost ledger itu sekarang, atau lo mati di dalam ruangan ini tanpa ada yang bakal nyari jasad lo."
Bayu mengangkat kepalanya lambat. Sudut bibirnya pecah bergerak. "Gue... gue bakal kasih. Gue tahu di mana server cadangannya disimpan."
Bayu menarik napas dalam. "Tapi lo harus jamin. Jamin keamanan gue dari Nicholas dan orang-orangnya. Kalau mereka tahu gue yang pegang pembukuan itu, gue bakal di buang ke laut."
Cakra mengangguk sekali. "Gue jamin."
Cakra berdiri, menoleh ke arah dua polisi kenalannya saat mereka masih pendidikan di akademi. "Bawa dia ke tempat Yosep. Tapi nanti malam, jangan sekarang. Tunggu instruksi dari gue setelah magrib."
Angin sore berhembus dari arah laut. Baron sedang duduk di atas tumpukan pelek mobil, menghitung lembaran uang ribuan. Pisau lipat di tangan Juki bergerak membersihkan sela-sela kukunya. Joni berdiri di sudut, bersandar di dinding, ia menghisao dalam rokok kreteknya.
Cakra melangkah masuk ke area Hanggar, berjalan melewati Baron dan Juki.
"Bang," Cakra berhenti tepat di depan Joni bersandar. "Bisa ngobrol bentar? Berdua."
Baron mendongak, alisnya terangkat sebelah. "Gaya amat lo sekarang, pake rahasia-rahasiaan segala."
Joni menjentikkan abu rokoknya ke tanah, lalu melangkah mengikuti Cakra menuju area belakang pangkalan, di antara tumpukan ban truk yang sudah gundul dan berbau karet terbakar.
Langkah mereka terhenti jauh dari pandangan Baron dan Juki, Cakra berbalik penuh. "Makasih bang."
"Buat?"
"Buat kasih tau gue. Nggak semua orang pantes dibunuh dan ada orang yang emang harus dibunuh."
"Jadi lo udah ambil keputusan?"
Cakra mengangguk. "Gue bakal nyerang malam ini."
Joni menghentikan hisapan rokoknya, asap putih tebal keluar lambat dari hidung dan mulutnya. Matanya menyipit.
"Bawa Juki sama Baron pergi jauh dari pangkalan ini sore ini juga," lanjut Cakra, tangannya masuk di saku jaket hitam. "Polisi bakal nyerbu tempat ini dalam hitungan jam. Gue udah nyerahin Bayu bareng ghost ledger-nya ke tim gabungan."
Joni menatap Cakra beberapa detik. "Lo sendiri... mau ke mana?"
"Kelarin urusan," sahut Cakra pendek, menyerahkan kunci mobil pick up ke tangan Joni.
"Bunuh Agus?" suara Joni rendah, hampir tidak terdengar di antara deru angin sore.
Cakra terdiam, matanya menatap lurus garis cakrawala. Rahangnya mengeras.
"Makasih juga..." Ia menoleh, menatap mata Joni. "Karena nggak bunuh gue malam itu."