Karet wiper bergersk cepat di kaca depan SUV hitam, garis-garis air buram sebelum hempasan gerimis kembali menutup pandangan. Kirana mencengkeram lingkar kemudi dengan kedua tangannya, buku jarinya memutih. Ban mobil slip saat ia memindahkan gigi tiga, menginjak pedal gas lebih dalam, melompati gundukan pembatas jalan layang yang mulai digenangi air.
Di atas dasbor, ponsel pintarnya terpasang di dudukan plastik, cahaya layar putih terus-menerus melakukan pengulangan panggilan darurat otomatis.
Memanggil Baskoro...
Panggilan Gagal.
Satu ketukan jari kirinya memutus layar, beralih ke urutan nomor berikutnya. Ibu jari Kirana bergerak menekan nama Nicholas. Speaker diaktifkan, kabin mobil l dipenuhi desis statis, diikuti oleh bunyi klik digital sebelum layar kembali menampilkan ikon silang merah.
"Angkat, bangsat... angkat," desis Kirana di sela-sela deru mesin yang meraung di putaran empat ribu RPM.
Ia melemparkan pandangannya ke arah spion tengah, tangannya memutar kemudi ke kiri, memotong jalur taksi. Bunyi klakson panjang yang melengking di antara suara hujan. Nama Citra berkedip sekali di layar ponsel, sebelum sistem kembali memutus sambungan.
SUV hitam meliuk melewati jajaran pohon. Kirana mematikan lampu utama mobil, mengganti dengan lampu senja yang redup, bodi kendaraan menyatu dengan kegelapan bayangan barisan pohon.
Sepeda motor bebek berhenti di bawah bayangan pohon, berjarak lima puluh meter dari rumah megah. Pagarnya terbuat dari besi tempa hitam setinggi tiga meter, ujungnya meruncing seperti tombak, tertutup rapat tanpa ada celah untuk mengintip ke dalam pekarangan.
Cakra turun dari motornya, mesinnya mati tanpa mencabut kunci kontak. Jaket hitamnya mulai basah rintik air hujau, kilau gelap di bagian bahu dan lengan.
Matanya menyapu perimeter luar rumah utama Agus Mahardika tanpa berkedip. Dua pengawal berdiri di depan pagar. Di balik jeruji besi, siluet kolam air mancur mati berdiri di tengah bundaran di depan rumah.
Cakra melangkah maju, langkah sepatunya mengetuk permukaan aspal yang basah. Tangannya di dalam saku jaket meraba popor pistol di balik pinggangnya. Herimis malam terus turun, menghapus jejak langkahnya yang merayap mendekati gerbang utama kediaman Mahardika.
Minibus abu-abu terparkir tanpa lampu di bawah rimbun pohon beringin, berjarak seratus meter dari tikungan jalan utama kediaman Mahardika.
Kirana menghentikan mobilnya tepat di belakang minibus abu-abu. Ia melompat turun dari kabin, pintu mobilnya terbuka setengah, langkah kakinya menerobos genangan air setinggi mata kaki yang terasa dingin menembus sepatu ketsnya.
"Komandan! Di sini!" suara tertahan memanggil dari sela-sela pintu belakang minibus yang terbuka sedikit.
Bimo berdiri mengenakan perangkat headset taktis yang melingkar di kepala, tangannya memegang komputer tablet. Peta topografi tiga dimensi dari kediaman Agus Mahardika. Wajahnya basah oleh tempias air hujan, dan ada gurat semen pucat di sekitar garis bibirnya.
Kirana meraih pinggiran pintu besi rantis, menarik tubuhnya naik ke undakan baja. "Gimana situasi di dalam? Tim pemukul sudah masuk?"
"Belum ada pergerakan dari tim gabungan." Dedi memyahut dari dalam minibus. "Kita ditugaskan memantau pergerakan orang-orang di dalam sampai tim gabungan siap masuk."
"Komandan." suara Rani memanggil dari kabin penumpang depan. "Ada pergerakan tunggal dari arah trotoar dua menit lalu."
Rani menunjuk salah satu monitor pengintai yang terhubung dengan lensa malam inframerah di atas pohon ring dua. "Lihat ini."
Kirana menatap bayangan hitam bergerak lambat di balik pagar. Siluet itu bergerak tanpa suara, tubuhnya terlindung balutan jaket katun tebal yang menyerap cahaya lampu jalan. Langkah kakinya pelan menuju ke arah pagar samping tempat pengawal berdiri. Kilau logam pendek terselip dibalik pinggang belakang jaketnya.
Cakra menjatuhkan wrench kecil ke jalan di sisi berlawanan penjaga lain. Satu penjaga berjalan ke arah suara, tubuhnya membungkuk meraih kilauan di atas aspal. Belati Cakra menancap cepat tepat pangkal leher, tubuhnya merosot tanpa suara ke aspal.
Kedua lengan Cakra mencengkram ketiak penjaga, menyeret tubuhnya ke balik bayangan pohon, lalu bergerak pelan ke belakang penjaga lain. Jemarinya menaril benang nilan yang tersembunyi di pergelangan tangannya, ia melilit leher penjaga kedua, urat lengannya menonjol. Suara penjaga tercekat di tenggorokan, bergerak liar lalu kejang.
Cengkraman tangannya mengendur saat tubuh penjaga kedua terkulai. Kepala Cakra bergerak kiri kanan, lalu menyeret tubuh penjaga kedua.
Kirana menahan napasnya. Otot wajahnya menegang, rahang bawahnya menonjol. "Cakra," suaranya bergetar rendah di tenggorokan.
Rani menoleh cepat, dahi berkerut dalam. "Komandan?"
Kirana berbalik menyambar salah satu rompi antipeluru Kevlar hitam yang tergantung di dinding kabin minibus. Tangannya bergerak cepat, jarinya dua kali slip di pengait plastik. ia menarik tali pengencang lateral, menekan dadanya dengan kuat.