BERONDONG APES DAN POLWAN CANTIK

Arata Kaivan
Chapter #51

CROSSOVER

Gorden kain belacu bergoyang lambat ditiup angin sore. Tiga bulan berlalu sejak tanah merah di Blok Sembilan mengeras, waktu seolah berhenti pada putaran detik yang sama. Kirana berbaring tengkurap, membiarkan separuh wajahnya tenggelam ke dalam lipatan bantal kapuk, mengenakan aus hitam longgar.

Kedua tangann memegang kertas photobox, matanya yang lebam menatap wajah Cakra, tatapannya lurus mengarah kamera, dan Kirana menarik pipi Cakra ke samping.

Pintu kamar terbuka pelan. Veronica melangkah masuk tanpa alas kaki. Ia membawa mangkuk keramik berisi bubur ayam hangat, uap tipis mengepul di atasnya. Ia meletakkan mangkuk di atas meja nakas.

Veronica mengelus pucuk rambut Kirana yang berantakan, menyingkirkan beberapa helai yang menempel di pipi lembap anaknya.

"Nasi di dapur sudah tiga kali dipanaskan, Putri," suara Veronica rendah. Tangannya beralih merapikan lipatan selimut di ujung kaki Kirana. "Laras senjata itu kalau sudah dingin, ya cuma jadi besi tua. Manusia juga sama. Kalau terus-terusan kamu taruh di atas dada, lama-lama dadamu yang remuk sendiri."

Ujung jempol Kirana bergerak mengelus wajah Cakra, ia menggeser permukaan bantal, menyembunyikan sisa air mata yang merembes di sela kelopak matanya. "Putri cuma lagi nggak lapar, Bu."

"Ibu tahu bedanya anak yang nggak lapar sama anak yang kepalanya masih ketinggalan di Jakarta," Veronica berdiri kembali. "Mangkuknya jangan cuma dilihat. Habiskan sebelum semutnya datang."

Bunyi getar panjang dari ponsel yang tergeletak di atas lantai ubin memutus kesunyian kamar. Kirana mengulurkan tangan kirinya ke bawah tempat tidur, meraba permukaan lantai yang dingin. Jemarinya menyambar ponselnya. Matanya menyipit menatap nama Rani berkedip di layar ponsel.

Kirana menggeser tombol hijau, membalikkan tubuhnya terlentang menatap langit-langit kamar. "Ya, Ran."

"Komandan," suara Rani keluar dari speaker. "Posisi masih di kampung?"

"Jangan panggil komandan lagi, Rani. Lencana saya sudah di meja Hermawan sejak tiga bulan lalu," Kirana memijat pangkal hidungnya. "Panggil biasa aja."

Jeda satu detik terjadi di seberang sambungan, diiringi suara helaan napas Rani lewat mikrofon. "Ya... Kak. Kita harus ketemu sekarang. Saya di kedai kopi dekat stasiun lama, sudut timur. Ada sesuatu yang keluar dari server cadangan Polda setelah pembersihan manifes Mahardika selesai kemarin malam."

Kirana menegakkan punggungnya, selimut birunya meluncur jatuh ke lantai. "Tentang ghost ledger?"

"Lebih dari itu," suara Rani mendadak turun, berbisik tipis di antara desau bising kedai kopi. "Ini tentang lembar kerja yang nggak pernah masuk ke laporan sidang kode etik kemarin. Gue tunggu tiga puluh menit dari sekarang."

Aroma kuat biji kopi Arabika yang gosong bercampur dengan sisa bau rokok kretek dari meja sebelah Rani. Kirana mendorong pintu kaca kedai kopi. Matanya menyusuri setiap sudit kedai.

Rani duduk di depan laptop, tiga map plastik bertumpuk di samping papan ketik,

Kirana duduk di kursi kayu tepat di depan Rani, melemparkan jaket parasut birunya ke sandaran kursi tanpa memesan minuman terlebih dahulu.

Lihat selengkapnya