Kami sampai. Sebuah taman kecil di ujung kota.
Tak ada suara hewan. Tak ada bau kotoran. Tak ada kehidupan.
Yang ada hanya patung-patung hewan dari beton—macan, gajah, singa, jerapah. Diam. Membisu. Mati.
“Itu dia, Jar. Hewan-hewannya. Fajar mau naik macan?”
Aku mematung. Sejenak, kecewa menendang hatiku seperti bola kosong.
Tapi lalu aku tersenyum. Karena aku tahu bapak sudah berjuang terlalu jauh untuk kebohongan ini.
“Iya, Pak. Naik macan, ya.”
Dan bapak pun mengangkat tubuh kecilku, meletakkanku di punggung macan yang keras dan dingin.
Aku menatap mata macan itu, mata kosong dari semen yang retak,
dan aku belajar sesuatu:
Jangan terlalu berharap, kita ini siapa.