Tatapan sinis, hidung yang dicubit pelan agar tak mencium bauku, kata-kata yang berbisik di belakangku.
Aku hafal semua. Mereka lebih sering menghukum penampilan ketimbang memahami kisah.
"Ih, kotor. Bau. Nggak tahu malu."
Padahal aku pun ingin harum. Aku pun ingin bersih. Tapi sabun tak murah, dan air bersih tak selalu mengalir ke tempat sepertiku.
Kalian jijik padaku? Maka jangan salahkan mereka yang akhirnya menjadi liar.
Jangan salahkan tangan yang mencuri, jika selama ini mereka hanya diajari ditolak.
Jangan salahkan mereka yang mendongak dengan marah, jika hidup terlalu lama menundukkan mereka dengan hina.
Aku Tetap Anak yang Dulu
Di balik karung di punggungku, aku tetap Fajar. Anak kecil yang dulu percaya orang tuanya sudah makan.