Lantai ruangan itu dingin. Bukan dingin biasa—tapi dingin yang terasa seperti penolakan hidup. Seolah lantainya sendiri ingin mengusirku.
Aku duduk, atau lebih tepatnya dijatuhkan oleh keadaan.
Wajahku menunduk, bukan karena takut… tapi karena sudah terlalu lelah untuk melihat dunia yang hanya tahu memukul, tapi tak pernah mau mendengar.
Di depanku, pria tegap berdiri membawa pentungan.
Ia membelakangiku, menatap jeruji seperti sedang mencari keadilan yang sudah lama dikubur.
"Siapa nama temanmu? Di mana dia? Jawab."
Suaraku serak, seperti doa yang sudah ditinggalkan Tuhan.
"Aku... tidak tahu, Pak."
Dan seperti biasa, tidak tahu bukanlah jawaban.