Aku sudah terbiasa dihina. Sudah terlalu sering direndahkan.
Tapi malam itu…
Yang menyakitkan bukan hanya pukulan, tapi cara mereka memperlakukan aku seolah aku tak punya jiwa.
Tubuhku lebam. Mulutku robek.
Tapi tetap aku berkata jujur.
Dan seperti biasanya, kebenaran terlalu kecil untuk didengar—apalagi jika keluar dari mulut orang seperti aku.
"Kami tahu kamu pelakunya. Pakaianmu adalah buktinya."
Aku ingin tertawa. Tapi tenggorokanku sakit.
Bukan hanya karena pentungan, tapi karena kenyataan:
Dalam hidup, kadang yang salah bukan siapa yang berbuat… tapi siapa yang paling mudah dituduh.
Luka yang Tidak Memilih Wajah