Tubuhku tak lagi terasa seperti milikku. Seperti bangkai yang diseret hari kemarin. Tulang-tulangku retak.
Nafasku hanya seutas benang tipis yang bisa putus kapan saja.
Aku tergeletak di lantai dingin, telanjang oleh martabat, tenggelam oleh darah yang mengering.
Tubuh ini penuh luka. Penuh lebam. Penuh diam yang menjerit tanpa suara.
Lalu air dingin mengguyur tubuhku, keras dan tiba-tiba. Sakitnya seperti luka-luka ini diaduk ulang oleh tangan neraka.
“Bangun! Pembunuh gak layak bermimpi!”
suara petugas menyayat telinga, tajam seperti tuduhan Tuhan yang tak sempat kudebat.
Mataku membuka, susah payah. Kelopak yang lebam seperti tak mengizinkan cahaya masuk. Tapi aku harus melihat. Harus sadar.
Karena suara itu datang...
“Fajar… Fajar!”