Bersalah Sebelum Bernapas

Temu Sunyi
Chapter #21

Wajah yang Sudah Dicap Sebelum Salah Ditemukan

Tubuhku masih remuk. Nafasku masih tersengal. Tapi itu semua tidak lagi penting.

Karena sejak kulihat Bapak dan Ibuk bersujud kemarin—memohon, meratap, menghantamkan wajah mereka ke lantai penjara demi kebebasanku—aku tahu... tak ada luka yang bisa menyaingi luka itu.

Aku anak mereka. Tapi di mataku sendiri, aku tak pantas disebut begitu. Apa yang telah kuberikan selain air mata dan rasa malu?

Mereka datang dengan segala keriput dan letih, tapi pulang dengan tubuh yang makin membungkuk dan dada yang makin kosong.

Tangan mereka yang dulu menggandengku belajar berjalan, kini bergetar di atas lantai penjara, meminta belas kasihan dari dunia yang tak mengenal ampun.

Dunia yang percaya pada seragam dan darah, tapi tak percaya pada kebenaran yang bisu.

Sejak hari itu, aku berhenti berharap. Yang tersisa hanya keinginan sederhana:

andai aku bisa mati menggantikan mereka menangis.


 Aku Bukan Lagi Manusia, Hanya Tontonan Tanpa Nama



Hari ini, aku diborgol. Ditarik keluar dari sel, dilempar ke dalam mobil, dibawa ke sebuah tempat yang lebih menyakitkan dari penjara.

Di sana... sudah ramai manusia. Bukan untuk memberi keadilan, tapi untuk menonton.

Lihat selengkapnya