Bersalah Sebelum Bernapas

Temu Sunyi
Chapter #22

Nama Yang Tak Pernah Dibela

Aku menulis ini bukan untuk dibaca. Tapi karena dinding lebih bisa mendengar dibanding manusia. Dan darah lebih jujur daripada tinta.

Namaku Fajar. Tapi di sini, aku cuma angka. Nomor tahanan. Wajah lusuh yang digiring paksa, dicaci, diludahi, lalu dilupakan.

Aku bukan siapa-siapa. Dan mungkin, memang tak pernah jadi siapa-siapa sejak dilahirkan.

Dulu, aku pikir kalau aku diam, Tuhan akan turun tangan. Tapi ternyata, diam cuma membuat mereka makin leluasa menampar, menyiksa, dan menuduh.

Dan Tuhan… entah tertidur, entah juga sedang sibuk mengurusi nama-nama yang punya rumah dan pengacara.

Yang mereka cari bukan kebenaran—tapi wajah miskin untuk dijadikan pelaku.

Dan sialnya, wajahku cocok. Jaketku sobek. Sandalku murahan. Tangisku, bahkan tak pantas jadi bukti.

Bapak, Ibuk… Kalian bersujud kemarin. Kalian hantamkan dahi ke lantai hanya untuk anak yang dunia anggap bangkai.

Maaf, aku tidak sanggup melihat itu lagi. Satu-satunya hal yang lebih menyakitkan dari tubuhku dibakar rokok, adalah melihat cinta kalian dihina di depan mataku sendiri.

Aku pergi bukan karena kalah. Tapi karena dunia ini tidak menyediakan ruang bagi anak seperti aku untuk bertahan tanpa berubah jadi binatang.

Dan kalau nanti pagi datang—tanpa aku— Jangan sedih. Mungkin aku sedang berubah jadi cahaya.

Yang datang bukan untuk menerangi siapa pun, tapi untuk menampar langit yang terlalu nyaman memeluk mereka yang menyiksa anak-anakmu.

Bapak, Ibuk… Fajar kalian tidak salah. Tapi kebenaran… di dunia ini, selalu datang terlambat.

Fajar — yang mati bukan karena kesalahan, tapi karena tak ada yang cukup peduli untuk bertanya.


Catatan Penulis

Lihat selengkapnya