Rumah itu biasanya menjadi tempat paling aman bagi Willa. Namun malam itu, dinding-dinding putih gading terasa asing, seperti menyimpan gema dari setiap kata yang diucapkan Valeria di depan pintu gerbang rumahnya tadi.
Willa berdiri membelakangi pintu kamarnya yang baru saja ia tutup rapat. Napasnya pendek-pendek, dada naik turun, seluruh otot-otot tubuhnya menolak menerima kenyataan.
Ia menyandarkan tubuh ke daun pintu, menunduk, lalu menutup mulut dengan telapak tangan untuk menahan suara yang ingin pecah.
Zefanya. Anak kita.
Suara Valeria terus terngiang, meringis pelan tapi pasti.
Langkah pelan terdengar dari arah luar kamarnya. Zenan mendekat, mengetuk pintu sangat hati-hati.
"Sayang... boleh aku masuk?"
Willa tidak menjawab. Ia takut jika membuka mulut, yang keluar hanya tangis yang tak bisa berhenti.
Zenan kembali mengetuk-kali ini lebih pelan, seperti takut menyakiti.
"Will... please."
Willa memejamkan matanya kuat-kuat. Ia tahu Zenan butuh bicara. Tapi ia juga tahu dirinya butuh bernapas.
Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, "Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Zenan melangkah masuk, namun tak berani mendekat terlalu jauh. Ia tahu batas itu. Hanya saja-malam ini batas itu terasa seperti jurang.
"Willa..." suaranya pecah.
Willa mengangkat wajahnya. Matanya berkaca, tetapi bukan meledak-ledak. Justru itu yang membuat Zenan semakin hancur-Willa tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja ditampar oleh kenyataan menyakitkan dari suaminya.
"Jelasin," ucap Willa. "Jelasin semuanya, Zenan! Aku butuh mendengar dari kamu. Bukan dari dia."
Zenan menarik napas panjang, begitu panjang hingga bahunya ikut turun.
"Itu... bukan seperti yang kamu pikirkan," ucapnya pelan.
"Kalau begitu, jelaskan," Willa duduk di tepi ranjang, menjaga jarak. "Tolong jangan buat aku menebak-nebak. Apa maksud darinya tadi? Kamu, punya anak dari dia?!"