Malam itu sunyi, hanya ditemani cahaya malam dan lampu-lampu komplek yang berjejer halus di setiap rumah.
Willa datang ke rumah adik iparnya, Keyna yang merupakan istri Terence yang tak lain salah satu adik dari Zenan.
Di rumah ini, terasa hangat, lampu-lampunya lembut, dan aromanya selalu wangi vanilla yang terasa kontras sekali dengan kekosongan yang kini di dada Willa.
"Gue gak tahu lagi, setelah ini gue mau gimana, Key..."
Keyna menatap kakak iparnya itu tanpa berkedip, matanya mengeras, tapi bukan pada Willa-melainkan pada apa yang baru saja ia dengar.
"Astaga..." Keyna menutup mulutnya tak percaya, suaranya pelan, nyaris seperti takut. Ia dapat melihat jika saat ini, bahkan kala itu juga Willa tampak runtuh, dan kali ini lebih...
Keyna mengusap pelan bahu Willa dan meraih tangannya, menggenggam kuat.
"Gue juga gak nyangka banget Kak, kalau Kak Zenan kayak gitu. Beberapa hari lalu pas yang lo cerita perihal sesuatu di handphone suami lo, gue antara mau ikutan berpikiran buruk atau gue mau nyuruh lo buat berpositif thinking juga susah. Kalau udah soal beginian dan menyangkut suami, itu emang sensitif banget sih, gue waktu itu belum berani komentar banyak." Keyna hampir meringis, ia melihat Willa yang tampak sedih dan terluka-jelas tak seperti biasanya.
"Tapi kali ini, gue beneran pengin caci maki Kak Zenan. Bisa-bisanya ya, dan dia gak pernah bilang ke lo, Kak? Hal gila apa yang selama ini udah terjadi, terlebih itu udah tiga belas tahun yang lalu. Dan... bisa sama sekali gak tahu?" ucap Keyna sangat tidak percaya.
Willa terdiam lama sebelum akhirnya mengusap wajahnya yang basah entah oleh sisa hujan atau air mata yang mulai turun tanpa ia sadari.
"Key..." Suaranya parau, tapi stabil. "Gue... sebenarnya bukan cuma marah, bukan cuma kecewa."
Keyna menatap Willa, menunggu.
"Ada bagian dari diri gue yang ngerasa... wajar kan, gue marah kayak gini?" Willa menelan ludah, menatap tangannya sendiri. "Gue istrinya. Gue... berhak marah, kan? Gue berhak ngerasa dikhianati, berhak ngerasa dibohongin."
"Berhak banget, Kak." Keyna langsung menjawab, tegas. "Gue kalau jadi lo juga, lebih dari rasa sakit yang bakalan gue rasain. Kehilangan anak pertama gue dari pelukan gue contohnya, itu udah buat gue gila dan sebel setengah mati termasuk sama Terence."
"Gue ngerti banget soal itu, Key. Gimana tersiksanya lo selama ini." Willa menatap Keyna dengan penuh perasaan tulus.
"Gak ada perselingkuhan yang bisa dimaafin, tapi kalau soal ini... semua keputusan di lo nantinya, Kak. Gue harap lo kuat hadapinnya," tutur Keyna lembut.
Willa memijit pelan pelipisnya, matanya menerawang. "Jelas, dan ini bukan reaksi berlebihan dari seorang istri yang sakit karena mendengar hal yang tiba-tiba, kan? Bukan gue gak dewasa atau gak kuat, tapi... jujur rasanya sakit banget."