Pagi itu berjalan ganjil-matahari sudah naik cukup tinggi, menembus tirai tipis ruang keluarga dan memantulkan memantulkan kilau hangat ke lantai. Namun meski cahaya terlihat lembut, atmosfer rumah terasa berat, seolah udara tertahan dan enggan bergerak. Aroma kopi yang sudah tak lagi dingin masih tercium samar, bercampur dengan udara pagi yang sedikit lembap.
Zenan duduk di salah satu sofa panjang dengan tubuh sedikit membungkuk dan wajahnya tampak kelelahan meskipun hari baru saja dimulai. Sementara itu, ketiga saudaranya berkumpul di hadapannya dengan ekspresi masing-masing yang sama-sama tidak senang. Chio tampak geleng-geleng semenjak tadi, seperti sangat terheran dengan kakaknya yang satu itu. Orfeo yang duduk tak jauh darinya, dan Terence yang duduk di samping Zenan persis dengan tenang namun jelas menahan sesuatu dalam pikirannya.
Tanpa pemanasan, Chio langsung meledak paling dulu. "Kok bisa sih lo punya anak dari cewek lain ha? Gila nih kakak gue," ujarnya, ia merupakan adik bungsu Zenan.
Orfeo memutar bola matanya, napasnya kasar. "Emang dia nih diem-diem, kek ibaratnya dia paling kalem kali tapi... anj*ng emang. Bener-bener gila, real gila."
Terence mengusap pelipisnya, menghela napas panjang seperti sudah lama menahan beban ini. "Gue sebenernya udah tau dari lalu-lalu, Keyna yang cerita karena dia sering dicurhatin Kak Willa. Cuma, gue masih diem. Karena belum denger cerita langsungnya dari lo, walaupun sebenernya gue juga udah gedek banget pas denger kabar modelannya kayak gitu." Ia menatap Zenan tampak serius.
Perlahan Zenan menoleh pada Terence, wajahnya kusut dan seperti tidak berdaya. "Inget ya, lo juga punya Ansel."
Terence langsung menatap balik, lalu mendecak. "Ansel? Emang kenapa Ansel? Ansel udah gede, dia udah dewasa. Lagi pula, dia itu anak gue sama Keyna, bukan sama cewek lain. Ya kali gue punya anak dari cewek lain, diabisin Keyna kalau gue."
Orfeo mengangkat tangan seakan mempertegas. "Bener anjir, kalau gue yang begitu apa kabar ngamuknya Winsley coba? Ini mah Willa, tau sendiri Willa kayak gimana."
Chio ikut mengangguk cepat. "Kita semua tau Kak Willa kayak gimana, tapi malah sama suaminya digituin." Ia sampai geleng-geleng kepala saking herannya. "Kira-kira bakal gimana coba habis ini? Apa masih bakal jadi Kak Willa kayak biasanya?"
Orfeo bertumpu pada meja, menatap Zenan dengan sorotan mata yang sulit dibaca-kesal, peduli, dan bingung bercampur jadi satu. "Kata gue kalau Willa gak kuat misalnya, ya udah gapapa, gimana keputusannya aja. Sorry juga nih ya, tujuan gue dateng ke sini... ah kita bertiga sih kali ya sebenernya... ya buat ngecek keadaan nih orang sama memastikan, apa bener tuh semua kabar itu? Eh beneran, any*ng."
Terence menunduk sejenak, lalu bergumam. "Gue yang tau dari awal karena Keyna yang pastinya selalu cerita," gumamnya.
Zenan membenarkan posisi duduknya, napasnya berat seperti menahan panik. "Jangan pada bilang aneh-aneh, gue minta tolong kalian doain aja buat gue yang terbaik. Karena kalau sampai kenapa-napa dan beneran Willa minta cerai, gimana sama Nara dan Liora? Gue juga gak bakal mau kalau harus lepasin Willa," ujarnya tampak sudah sangat lelah.
Terence mengangkat kepalanya perlahan. "Ayah sama Bunda udah denger kabar ini belum? Atau perlu dikasih tau dulu?" tanyanya.