Hari itu terasa seperti perpanjangan dari malam yang tak selesai-sunyi, panjang, dan penuh beban yang menggantung. Cahaya matahari memancarkan sinarnya terang-terangan di hadapan Willa yang kini tengah duduk di balkon, dan memantul lembut pada permukaan lantai dan jendela. Ia tampak sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Di seberang sana, Keyna menutup mulutnya dengan beberapa kali kedipan mata cepat-bahkan tanpa melihatnya pun Willa bisa membayangkan itu. Suara Keyna terdengar bergetar, namun ia berusaha tetap stabil. "Kak... jangan ngomong gitu dulu. Lo lagi capek banget, lo lagi kepenuhan. Orang yang lagi penuh itu bisa terlalu cepat mengambil keputusan, takutnya itu cuma emosional aja Kak..." ujarnya pelan.
Willa mengusap sudut matanya yang mulai basah. Angin dari balkon mengenai wajahnya, namun tidak cukup untuk menenangkan gelombang emosi di dadanya. "Iya gue tau, Key... Gue juga masih mikirin Nara sama Liora kalau seandainya gue sama Zenan pisah. Tapi, gue beneran kerasa capek banget. Terlebih, ini bukan masalah sepele, tapi besar banget."
"Gue tau... gue tau, hal ini bukan masalah sepele. Lo udah ngelakuin hal paling bener sekarang." Keyna menarik napas. "Lo pergi bukan buat nyakitin siapa pun. Lo pergi karena lo sayang sama diri lo. Lo sayang sama anak-anak lo. Kalau lo tetep di rumah dalam kondisi kayak gitu, lo bisa meledak kapan aja. Dan itu lo gak mau, kan?"
Willa menggeleng, meski Keyna tak bisa melihat. "Gue gak mau mereka lihat gue kayak gitu..."
"Makanya lo sekarang pergi, kan," sambung Keyna. "Dan Kak... kalau pun lo nanti mutusin buat pisah, itu bukan keputusan yang egois. Itu keputusan orang yang udah sangat terluka. Gue bisa ngerti itu."
Willa menggigit bibir bawahnya, takut suaranya pecah. "Gue pengen nangis..." ucapnya pelan. "Makasih ya Key, udah selalu dukung."
"Dan kalau suatu hari lo balik sama Kak Zenan setelah semuanya jelas dan lo udah pulih, itu bagus. Tapi kalau lo gak balik dan pilih jalan lain... itu juga bukan berarti keluarga lo jadi rusak. Apalagi tentang Nara dan Liora, lo tetap Mama mereka dan rumahnya mereka."
Willa menutup mata lebih erat, air matanya akhirnya jatuh namun ia tidak menyeka. "Gue cuma butuh tenang dulu. Gue butuh ruang buat bisa mikir tanpa depresi lihat dia."
*
Rumah itu masih sama.
Dinding-dindingnya tidak bergerak, furniturnya tetap berada di tempatnya, dan aroma lavender yang biasa disukai Willa masih samar menempel di udara. Tapi bagi Zenan, semuanya terasa asing-seperti ia baru saja kembali ke rumah yang bukan lagi miliknya.
Ia duduk sendirian di lantai kamar, bersandar pada posisi ranjang tempat Willa biasa tidur. Posisinya hampir membungkuk, kedua tangannya terkunci saling menggenggam di antara lututnya, seperti seseorang yang sedang memohon pada sesuatu yang tak terlihat.
Dan sejujurnya, itulah yang ia lakukan. Memohon agar waktu bisa mundur. Memohon agar satu kesalahan di masa lalu tidak menghancurkan seluruh hidupnya hari ini.
Ponselnya tergeletak di samping kaki. Bukan karena tak ingin menghubungi Willa-justru karena ia ingin, terlalu dingin, sampai-sampai ia tak berani menyentuhnya.
Ia takut. Takut kalau teleponnya tak diangkat. Takut kalau pesan singkatnya hanya dibaca tapi tidak dibalas. Takut kalau Willa akhirnya benar-benar mengucapkan kata itu-kata yang bahkan dalam pikirannya saja mampu membuat jantungnya berhenti sesaat.
Cerai.