Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #10

10. Valeria

Valeria duduk di sofa dekat jendela kamarnya, kaki bersilang, dengan ditemani secangkir kopi yang sudah dingin menggantung di antara jarinya. Senyum miring itu muncul lagi-senyum yang selalu datang ketika pikirannya menyentuh satu nama. 


Zenan.


"Kamu harus tahu, Zenan. Orang seikhlas dan sediam aku juga punya batasnya. Ternyata dengan diamnya aku selama ini pun... tidak membuat kamu membuka mata ya, dan Zefanya... belum bisa kamu akui sebagai anak kamu. Padahal... bukti dari hasil tes DNA itu kurang apa, kan? Itu semua, ternyata tidak cukup untuk kamu." Valeria menggelengkan kepalanya pelan, senyum miring kembali tampil dari bibirnya dengan wajah yang tidak bisa dibohongi-menyiratkan luka mendalam yang telah lama dipendamnya.


Ia menatap ponselnya. Belum ada pesan baru dari pengacaranya, belum ada kabar lanjutan tentang permohonan hak anak yang sedang ia proses. Tapi itu tidak mengurangi rasa puas yang menjalari dadanya.


Keluarga Zenan sedang terbakar. Dan ia tahu betul siapa yang menyalakan api itu.


Valeria menyandarkan tubuhnya, membiarkan kepalanya miring sambil memainkan anak rambut di bahunya. "Aku penasaran," gumamnya. "Willa... sudah sampai tahap mana, ya?"


Willa, istri dari Zenan yang terkenal lembut dan selalu dibicarakan Zenan dulu-dengan tatapan terlalu manis sampai membuat Valeria terkadang bosan mendengarnya, dan sekarang mungkin... ia muak mengingat itu. 


Perempuan itu pasti sekarang remuk. Gemetar. Hancur.


Dan Valeria?


Ia menunggu itu.


"Cerai tidak, hm?" Valeria tertawa kecil, pendek dan tajam. "Ini semua salah Zenan. Salahmu, Zenan... membiarkan semua ini berlalu sampai tiga belas tahun lamanya... bukan waktu yang sebentar."


Valeria menunduk, menatap pantulan samar wajahnya di permukaan meja yang mengilap. Ada gurat lelah, ada sisa-sisa harapan yang mati begitu lama, tapi di balik ada sesuatu yang lebih gelap-ketenangan yang tidak wajar bagi seseorang yang baru saja meledakkan keluarga seorang Zenan Welery dari keluarga yang sangat terpandang... Rouvin.


"Aku sebenarnya... gak mau melakukan semua ini jika tanpa alasan. Aku, punya alasan di balik semuanya. Maafkan aku," lirihnya menunduk. "Aku memikirkan putriku. Zefanya hanya punya aku Ibunya, dan kamu Ayahnya, Zen..." Valeria kembali menatap pemandangan luar di depannya.


Secangkir kopi tadi diraihnya, ia menghabiskannya sampai tak tersisa. "Aku hanya ingin mengambil apa yang memang seharusnya menjadi hak anakku," katanya, hampir seperti pembelaan. "Zefanya... juga bukti yang tidak akan bisa kamu sembunyikan lagi. Dan kalau Willa nantinya memilih pergi... itu salah satu konsekuensi dari keputusan yang kamu ambil, Zenan..."


Ia bangkit dari sofa, berjalan pelan ke arah jendela. Perumahan terlihat tenang di luar sana, seolah dunia sama sekali tidak peduli ada seorang perempuan yang sedang memperjuangkan hak putri semata wayangnya.


"Lucu ya..." Valeria memejamkan mata. "Dulu aku cuma ingin bertanggung jawab. Tapi karena aku memilih diam dan tidak memberitahumu sama sekali, karena takut mengganggu kamu... sekarang yang kubayangkan hanya pengakuanmu terhadap seorang anak yang merupakan darah dagingmu juga. Dia... anak kandungmu."


Kelopak matanya terbuka perlahan, memantulkan sorotan mata yang tidak lagi lembut.


"Aku ingin melihat kamu mengakuinya... bahkan bertanggung jawab padanya sebagai putrimu. Kalau tidak... aku tidak akan bisa terus diam seperti batu." Tatapannya nanar, namun kosong-melainkan penuh tekad yang dingin. 


Lihat selengkapnya