Zenan mengusap wajahnya perlahan, seperti mencoba menyadarkan diri bahwa semua yang terjadi bukan mimpi buruk yang bisa hilang ketika ia bangun. Sedetik kemudian, ia berdiri, mengambil ponsel yang sedari tadi ia hindari. Ada begitu banyak pesan yang ingin ia ketik-kata-kata penjelasan, permintaan maaf, janji-janji yang terdengar menyedihkan bahkan sebelum ia tulis.
Namun tidak ada satu pun yang terasa cukup.
Ia membuka layar ponselnya. Menghela napas sekali. Lalu menutupnya lagi.
Sejak Willa dan anak-anak mereka pergi, rumah itu tidak hanya terasa kosong-tapi juga kehilangan arah. Seperti semua batas dan titik fokusnya lenyap bersamaan dengan keluarnya Willa dan dua putri mereka.
Dan Zenan berdiri di tengah-tengah ruang yang dulunya penuh tawa, sekarang hanya berisi bayangan kesalahannya sendiri.
Ia berjalan ke ruang tengah. Pandangannya jatuh pada pigura foto keluarga mereka, keempatnya tampak bahagia dan kompak.
Dengan lirih, ia menyentuh bagian dari pigura foto itu. Dan entah kenapa, sentuhan pada benda mati itu cukup membuat matanya panas.
***
Sementara itu, suasana apartemen masih sama sunyi.
Willa duduk kembali di sofa, ia masih berusaha menenangkan napasnya setelah melewati badai yang menerpa keluarga kecilnya belakangan ini. Matanya sedikit bengkak, namun tatapannya lebih jernih-bukan karena ia pulih, tetapi karena ia kehabisan tenaga untuk menangisi lebih jauh.
Ponsel Willa bergetar di meja kecil di dekatnya-layarnya menampilkan nama Kak Lian.
Willa menarik napas. Ia sebenarnya belum siap bicara dengan siapa pun-apa lagi kakaknya.
"Hallo, Kak?"
"Wil, lo di rumah kan?" suara Lian terdengar dari seberang sana. "Gue butuh konfirmasi buat acara makan keluarga minggu depan nanti. Lo inget, kan? Mama sama Papa minggu depan pulang, mereka minta makan bareng kita sekeluarga-anak, menantu, sama cucu-cucunya. Sekarang, Mama minta gue nanya lo soal tempat, jadinya mau di rumah lo atau pindah ke venue hotelnya Zenan?"
Willa sedikit terperanjat-astaga, ia lupa soal makan keluarga itu. Dan sekarang, telepon ini terasa seperti tali yang menariknya kembali ke kenyataan yang sedang porak-poranda.
"Eh... iya, Kak. Gue inget..." suaranya lirih, nyaris hilang.
"Jadi gimana? Mama butuh kepastian tuh." Lian menunggu tanpa curiga sedikit pun-setidaknya belum.
Willa meremas pakaian bawahnya, mencoba menstabilkan suaranya. "Kak... gue... lagi gak di rumah."
"Loh?" Lian spontan terdengar bingung. "Lo lagi di mana? Tapi pulang, kan?"
Willa menggeleng, ia seperti tak ingat jika Lian tak akan melihatnya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Wil?" panggil Lian, Willa terdiam lama. "Lo pergi sendiri apa sama anak-anak?"
"Iya, Nara sama Liora ada sama gue, Kak," jawab Willa.
Lian mengernyitkan dahinya. Ia diam sejenak. Diam yang jelas bukan diam tenang.
"Terus... lo di mana sekarang?" Nada itu berubah-lebih rendah, lebih fokus, lebih ke arah kakak laki-laki mode protektif aktif.
"Di apartemen," Willa menelan ludah, suaranya melemah. "Gue-gue keluar dari rumah."
"Apa?"
Satu kata itu saja sudah penuh tanda bahaya.
Willa mengalihkan pandangan ke lantai. "Kak... gak, jangan panik dulu. Gue, baik-baik aja."
"Maksudnya, apaan sih? Lo, keluar dari rumah sama Nara dan Liora, dan lo bilang 'jangan panik dulu'? Lo pikir gue gak bakal curiga?"
Willa memejamkan mata. "Kak, tolong banget... jangan tanya dulu. Gue bakal jelasin nanti."