Willa terdiam lama-lama sekali. Udara di ruangan apartemen itu seakan ikut menahan napas, seakan menunggu jawaban yang bahkan Willa sendiri tak tahu bagaimana mengucapkannya.
"Oke." Lian akhirnya bicara lagi, suaranya lebih pelan namun tetap tajam. "Gue ngerti. Sekarang gue tanya lain hal, berarti Alano belum tau soal ini?"
Willa menggeleng kecil sambil menunduk. "Belum, ini aja gue cerita ke lo karena tadi lo nelpon nanya perihal makan keluarga, kan. Kalau bukan karena itu, gue mungkin... belum siap ngomong apa-apa."
"Lo juga, tinggalnya jauhan banget dari gue sama Alano. Rumah gue sama Alano juga terbilang gak sedeket itu sih," Lian mengusap tengkuknya, helaan napasnya berat." Tapi kalau lo... kejauhan banget," ujar Lian.
Willa mengangkat wajahnya sedikit. "Gue kan tetanggaan sama saudara-saudaranya Zenan dan istri-istri mereka," balas Willa. "Rumah gue sedeket itu sama Keyna, kadang gue atau dia saling mampir, dan jujur... soal masalah ini, gue suka curhat ke Keyna dari awal."
"Keyna?" Lian memicingkan mata. "Lo gapapa tuh cerita sama dia? Dulu dia kan sempet ditaksir Alano tuh, lumayan lama banget, bahkan nyampe si Terence perang dingin banget sama adik lo itu."
Willa spontan mengembuskan napas tak percaya. "Apaan sih, gue sama Keyna kan dari dulu juga baik-baik aja. Urusannya Alano ya Alano, gue ya gue. Lagi pula, dia istrinya Terence juga yang adiknya Zenan, sama aja jadi adik ipar gue. Asal..." Willa mengangkat alis lemah. "Adik bungsu lo itu jangan ketemu aja. Nanti gamon lagi, kasihan Lucy."
"Ya, itu dia," Lian mendengus sambil geleng-geleng. "Emang dia kan kalau ketemu Keyna masih gamon. Lucy yang makan hati. Padahal Keyna gak pernah nanggepin apa-apa. Gue heran juga sama tuh anak satu."
"Sampai Keyna udah punya anak dua pun dia dulunya hampir gak percaya," Willa menempati pelan, meski bibirnya menegang.
"Oh ya, soal lo sama Zenan," Lian langsung mengembalikan fokus pembicaraan, wajahnya kembali serius. "Gue bakal bantuin lo. Kalau lo butuh gue buat ngehajar suami b*jingan lo itu, lo bilang aja ke gue."
Willa cepat menggeleng, napasnya terdengar sedikit. "Jangan, Kak... gue gak mau lo cari keributan sama Zenan. Gue cuma... cuma mau semuanya tenang dulu."
Lian diam lama. Tatapannya menusuk, penuh konflik-marah, bingung, dan khawatir bercampur jadi satu. "Gue marah banget," ucapnya akhirnya, suaranya berat. "Tapi gue gak akan bikin lo makin pusing. Gue diem... untuk sekarang."
Willa menunduk. "Makasih, Kak."
Tapi Lian tidak langsung menjawab. Ia justru menatap sekitar ruangan itu dengan pandangan tajam-seakan menilai apakah tempat ini benar-benar aman, sebelum pada akhirnya kembali menatap Willa dengan tatapan yang lebih serius.
"Lo yakin aman di sini?" tanyanya tiba-tiba.
Willa mengernyit. "Aman gimana?"
"Apa Zenan tau tempat ini?"
"Gak." Willa menggeleng, yakin. "Dia gak pernah tau gue punya apartemen ini."
Lian mengangguk, tapi ekspresinya tetap tegang. Rahangnya menggembung karena giginya mengatup keras.
"Baik," katanya. "Lo stay di sini sama Nara dan Liora. Kapan pun lo butuh gue, gue akan datang. Atau adik lo itu tuh, si Alano, biar peduli dikit sama saudaranya. Tapi mungkin... lo lebih baik bilang ke gue aja, biar gue yang hadapin si Zenan itu," ujar Lian dengan sorot mata tajam dan serius.
Willa mengusap pipinya yang lembap, menghela napas panjang. "Makasih, Kak."