Hujan turun tipis di luar gedung Apartemen Cendana, menutup kaca-kaca dengan butir kecil yang jatuh perlahan. Dari arah parkiran basement, seorang pria berhenti tepat di antara pilar dengan napas tak beraturan dan matanya terpaku pada sebuah pintu lift yang terbuka.
Zenan.
Ia berdiri seperti seseorang yang sudah berlari terlalu jauh. Bukan karena mengejar seseorang, melainkan karena mengejar sebuah penyesalan yang ia sendiri tak tahu apakah masih mungkin untuk ditebus.
Lift berbunyi. Pintunya tertutup.
Ia menekan tombolnya sekali lagi, keras. Butuh satu detik... dua detik... sebelum logika dalam kepalanya kembali membentur kenyataan bahwa pintu itu tidak akan terbuka lebih cepat hanya karena ia menekannya dengan lebih kasar.
Zenan memejamkan mata.
Willa.
Nama itu berputar di kepalanya. Di dadanya. Di setiap denyut nadi yang terasa berat sejak ia melihat gedung apartemen ini, yang tak lain tentu merupakan tempat yang tak pernah ia tahu dimiliki istrinya.
Sudah tujuh hari dan tujuh malam istrinya itu tidak membalas pesan, ataupun mengangkat telepon darinya.
Dan hari ini... untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zenan merasakan kecemasan yang sebelumnya tak pernah dirasakannya, bahkan ketika dirinya menghadapi sebuah rapat dengan direksi besar sekalipun.
Tentu saja, ia cemas dan takut akan kehilangan seseorang yang disayangi dan dicintainya, juga selama ini sudah bersamanya, serta menemaninya dalam keadaan suka maupun duka.
Lift terbuka. Zenan masuk, menekan angka 18. Tangannya bergetar.
***
Ketika lift berhenti dan pintu terbuka, lorong panjang di lantai 18 terasa lebih sunyi dari yang ia sendiri bayangkan. Lampu yang temaram membuat bayangan di lantai membentuk garis dingin yang memanjang.
Sepatu kulitnya, dan lantai marmer itu membuat setiap langkah dan napasnya sendiri terdengar jelas.
Hingga ia berhenti di sebuah pintu dengan angka 18-07.
Apartemen Willa.
Setelah beberapa waktu, ia akhirnya dapat menemukan di mana keberadaan istrinya itu sekarang, dan juga... anak-anaknya tinggal.
Perlahan ia mengetuk pintu itu, setelah mengumpulkan keberanian.
Tok.
Tok.
Tok.
Hening.
Zenan menelan ludah, suara napasnya menggema di telinganya sendiri. Ia mengetuk lagi, lebih berat.
Tok.
Tok.
Tok.
Masih tidak ada respon.
"Willa...," panggilnya, terdengar pelan tapi pasti. Pelan, tapi penuh tekanan.
Lorong tetap sunyi.
"Aku di sini, Sayang. Tolong buka pintunya, aku cuma mau ngomong sama kamu. Aku sayang sama kamu, dan aku gak ada perasaan apapun sama Valeria. Tolong kamu dengerin aku..."
Zenan bersandar pada pintu, menekan dahinya di sana. Dadanya naik turun, terasa sesak.
"Kamu boleh marah. Aku memang pantas dimarahin." Ia menutup mata. "Tapi tolong, jangan menghilang kayak gini dari aku..."
Beberapa detik berlalu... hingga akhirnya terdengar suara klik kecil dari balik pintu.
Zenan menegakkan tubuhnya.
Pegangan pintu bergerak pelan. Pintu terbuka selembar telapak tangan.