BEBERAPA HARI KEMUDIAN...
Hujan kembali turun, tapi kali ini hanya berupa sisa gerimis yang menggantung di udara. Langit abu-abu seperti mencerminkan suasana hati Zenan yang tidak kalah kusut.
Ia duduk di ruang kerjanya, menatap meja yang berantakan oleh catatan kerja dan beberapa berkas kosong yang sejak pagi tidak bisa ia sentuh. Pikirannya masih berkutat pada Willa dan tatapan kekecewaan dari istrinya itu padanya.
Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Willa..." bisiknya lirih.
Tok. Tok.
Zenan otomatis menegakkan kepala, satu alisnya terangkat naik. "Siapa? Terence atau Orfeo? Terence bilang dia gak mau gantiin atau bantuin kerjaan gue, apalagi si Orfeo-biasa tuh orang, tadi juga mencak-mencak. Apa mereka ke sini?" batinnya.
Tak lama, pintu ruangannya itu terbuka sebelum ia mempersilakan orang tersebut untuk masuk.
Betapa terkejutnya Zenan kala melihat Valeria sudah berada di sana, masuk tanpa menunggu izin darinya.
Mengenakan dress hitam elegan yang terlalu pas di bentuk tubuhnya, rambut terurai lembut, dan parfum yang harum namun menyengat mengikuti setiap langkahnya.
"Zenan..." panggilnya lembut.
Ekspresi wajah Zenan semakin tak enak, ia sangat malas dengan adanya perempuan itu. "Mau apa lagi kamu ke sini, Valeria?" tanyanya tajam.
Valeria tersenyum kecil. "Mau apa lagi? Menurut kamu?"
Ia hendak mendekat.
"Ngapain kamu?"
Valeria tak mendengarkan kata itu, senyumannya yang tampak manis-tapi penuh arti, dengan mata yang terus menatap Zenan.
Zenan refleks mendorong kursinya ke belakang, menjaga jarak. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh penolakan.
"Stop di situ," ucapnya rendah.
Valeria berhenti hanya dua langkah dari meja. Senyum manis itu masih ada-senyum yang tentu di mata Zenan memuakkan, sejak hari perempuan itu datang ke rumahnya bersama kabar yang menghancurkan keutuhan keluarganya.
"Aku cuma mau ngobrol," ucap Valeria lembut, memainkan ujung rambutnya. "Aku tahu, kamu lagi stres. Kamu kelihatan lagi capek banget. Wajar sih... karena, istri kamu itu pergi dari rumah, kan?" Senyuman sinis itu terlihat, setelahnya Valeria memalingkan wajahnya sebentar dari Zenan-seperti meledek pria itu.
Zenan mengepal tangannya, tatapannya tajam ke Valeria.