Hujan sudah berhenti sejak satu jam yang lalu, meninggalkan aroma tanah basah yang masih melekat di udara. Langit mendung yang perlahan memudar menciptakan suasana yang tidak terlalu gelap, tapi juga tidak cukup cerah untuk menenangkan hati siapa pun.
Termasuk Zenan.
Ia kali ini sudah berdiri di sebuah kafe. Tempat ini dipilih oleh Valeria, letaknya sedikit tersembunyi di antara deretan toko bunga dan studio seni. Di sini tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup untuk membuat siapa pun merasa aman.
Zenan mengembuskan napas panjang, merapikan kerah bajunya. Tangannya dingin, bukan karena cuaca... tapi karena gugup.
Gugup yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Bertemu klien besar tak akan membuatnya seperti ini, menghadapi masalah besar juga ia masih bisa mengendalikan diri. Tapi bertemu seseorang ini—anaknya. Ya, anaknya. Anaknya dengan Valeria. Siapa lagi jika bukan Zefanya.
Anaknya yang selama ini tidak pernah ia sentuh, ia lihat, maupun ia rawat. Seluruh tubuhnya terasa gemetar saat ini.
Ia menatap pintu kaca kafe itu. Di baliknya, ia dapat melihat Valeria yang sudah duduk lebih dulu di pojok ruangan.
Bukan Valeria tentunya yang membuat napas Zenan saat ini terasa tersangkut, melainkan ada seorang gadis kecil yang duduk di samping Valeria.
Rambutnya hitam lurus, dan panjang dengan sedikit kepangan dan sebuah bando yang dipakai di kepalanya. Kulitnya yang cerah. Hidung yang mancung halus. Mata yang...
Ya Tuhan.
Matanya.
Zenan merasa dadanya ditarik ke dalam. Untuk sesaat, ia seperti tidak dapat bergerak.
***
Valeria melihatnya pertama kali, lalu memberikan kode padanya untuk masuk ke kafe itu.
Zenan menelan ludahnya, lalu mendorong pintu kaca kafe itu dengan perlahan.
Ia mendekat ke arah Valeria, dan... gadis kecil itu.
Gadis kecil itu—Zefanya, tampak menoleh kala ia sudah berada di dekat sana.
Tatapan matanya, membuat jantung Zenan seperti luruh.
Walaupun ia sudah pernah melihat anak ini sebelumnya, ketika Valeria membawanya saat datang ke rumahnya. Namun situasi saat ini dan kali ini jelas saja berbeda, Zenan merasakan ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya.
Mata hitam jernih yang menatapnya tanpa berkedip, ada rasa penasaran di dalam tatapan matanya. Senyuman merekah dan lebar itu menyambut Zenan.
"Papa?"
Gadis kecil itu langsung menoleh pada Valeria, seolah memastikan. Suaranya lembut, ragu, seperti takut salah memanggil.
Ekspresi wajahnya yang tadi terlihat sangat senang dan girang ketika melihat sang ayah, kini ia seperti dihadapkan oleh kebingungan.
Zenan merasa udara di sekelilingnya hilang sesaat. Kata itu—Papa—yang seharusnya mungkin didengarnya semenjak bertahun-tahun lalu dari anaknya yang satu ini, Zefanya. Namun, baru hari ini ia dapat mendengar suara itu benar-benar menusuk masuk ke telinganya.