Willa baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia memijat pelipisnya, tentu pikirannya akhir-akhir ini terasa penuh dengan segala masalah yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, ia beranjak dari tempatnya itu. Willa melangkahkan kakinya ke luar kamar, dan langsung melihat kedua anaknya yaitu Nara yang tengah terlihat asik belajar, sementara Liora terlihat tertidur tak jauh dari posisi sang kakak.
Perlahan, Nara menoleh. "Mama," panggilnya.
"Ya?" Willa menyahut ke anaknya itu, dengan senyum tulus dan terlihat seakan seperti tak terjadi apa-apa di hadapan anaknya.
"Mama baik-baik aja, kan?" tanya Liora, dari wajahnya tampak khawatir. Ia memerhatikan wajah sang ibu dengan seksama.
Willa terlihat berpikiran sebentar. "Iya, Mama baik-baik aja kok. Kakak kenapa tanya gitu?"
Nara terdiam sesaat, hingga kemudian kembali membuka suara. "Nara udah besar, Mama. Kalau ada apa-apa di keluarga kita, Nara bisa ngerasain. Nara tahu, akhir-akhir ini Mama suka sedih. Apalagi, dari yang Mama dan Papa berantem sampai Mama mutusin buat keluar rumah dan bawa aku sama Liora. Mama pikir, aku gak sadar dengan semua itu?"
Willa terdiam. Ia menatap putri sulungnya itu lama. Benar, putri sulungnya itu kini telah berusia empat belas tahun. Mungkin bisa disebut... bukan anak kecil lagi. Nara mungkin dapat merasakan dengan jelas apa yang tengah dialami oleh kedua orang tuanya, yang saat ini tentu sedang tidak baik-baik saja.
Pelan, Willa duduk di sofa, tepat di samping Nara. Ia mengusap dan membenarkan anak-anak rambut putrinya itu dengan kelembutan.
Nara menatap ibunya tanpa tersenyum. "Mama gak jawab. Padahal... kalau Mama cerita, Nara pasti juga akan ngerti kok. Tapi gak dengan cara Mama diam aja, Nara bingung, Ma... Liora lebih lagi. Apalagi, dengan kita yang tiba-tiba pergi dari rumah gini... ninggalin Papa."
Willa menghela napas, lembut dan letih. "Anak Mama yang ini, ternyata udah mulai besar ya... Kakak Nara, Sayang... Mama bukan gak mau cerita. Iya, Mama memang lagi gak baik-baik aja. Tapi, Mama gak mau bikin kalian takut atau khawatir."
"Tapi kenapa harus disembunyikan? Kalau sama Adek, mungkin gapapa. Tapi Mama gak bisa bohong sama Nara, Ma. Dari awal, Nara sadar kalau Mama sedih dan gak baik-baik aja. Dan juga... Mama selalu bilang kan, kalau keluarga itu harus saling jujur."
Willa tertegun.
"Dan yang bikin Mama sedih itu Papa, kan?" Nara melanjutkan.
Willa menelan napasnya perlahan. Ia menatap kedua mata putrinya dan mengangkat tangan untuk membelai pipi Nara dengan lembut.
"Sayang..." suara Willa rendah. "Yang bikin Mama sedih itu... banyak hal. Kakak Nara jangan terlalu khawatir ya. Kalau untuk soal rumah kita, Mama minta maaf sama Kakak dan Liora karena udah bawa kalian bersama Mama ke sini."
"Mama jangan bohong sama Nara. Papa juga bikin Mama sedih dan kecewa sampai kayak gini kan, Ma? Ayo jawab, Ma. Nara mau denger dan pengen tahu. Kalau bukan karena Papa, gak mungkin kita harus sampai pergi dari rumah gini, Ma..." Nara menatap ibunya dengan penuh harapan, wajahnya sedikit terlihat cemas.
Liora bergerak pelan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Ia menyipitkan mata melihat kakak dan ibunya, lalu langsung mengucek kedua matanya. Ia menatap sekeliling dengan wajahnya yang terlihat masih sangat mengantuk.
"Ma...?" Suara Liora terdengar serak, masih setengah sadar. "Mama sama Kakak ngomongin apa? Kok suaranya kayak sedih?"