Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #19

19. Memilih anak?

Pagi hari datang dengan langit cerah yang tampak bersih tanpa awan, seolah dunia memilih hari itu untuk terlihat begitu tenang.


Zenan berdiri di depan cermin besar kamarnya, ia saat ini terlihat sudah siap. 


Ponselnya bergetar pelan di meja.


Valeria:


Zen, hari ini jadi kan? Zefanya udah bangun dari pagi-pagi banget karena terlalu excited mau ketemu kamu. Dari semalam, dia udah nanya dan bahas terus.


Zenan mendesah lemah, tetapi senyuman kecil terbit juga di bibirnya. Ia mulai mengetikkan balasan pada pesan itu.


Zenan:


Iya, jadi. Aku udah janji sama Zefanya, gak mungkin aku mengingkari.


Baru hendak menaruh ponselnya kembali, sebuah panggilan muncul. Telepon dari seseorang.


Terence.


Zenan kembali meraih ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu, yang tak lain dari adiknya.


"Kak, ini apa-apaan? Kenapa tiba-tiba banyak laporan dan berkas masuk ke kantor gue? Lo ngasihin kerjaan lo ke gue, hah? Kemaren perasaan udah gue tolak." Dari seberang sana, adik Zenan itu terdengar mengomel.


Zenan menarik napas, sebelum akhirnya menjawab. "Oke, sebelumnya sorry. Gue kepepet banget soalnya. Tolongin gue sekali aja, Rence. Lagi pula, bukan ke lo doang kok. Gue juga ngirim ke tempat Orfeo, dia udah setujuin walaupun awalnya ngomel-ngomel juga, lebih dari lo."


"Alasan lo? Mau ketemu anak lo dari cewek itu? Apa harus banget ngorbanin gue? Kalau lo ada urusan, ya selesaiin dulu kerjaan lo, atau lanjut nanti. Lo nambahin kerjaan gue, tahu sendiri kan lo akhir-akhir ini Ayah banyak ngebebanin gue, apalagi si Kak Orfeo yang suka males-malesan dan nolak. Kayak begini, gue jadi makin jarang di rumah, lembur mulu gue."


"Oke, iya iya, gue minta maaf banget sama lo. Tapi kerjaan itu kan juga gak bisa dipending, gue minta tolong banget sama lo sama Orfeo. Nanti sebisa lo aja, gue juga bilang gitu ke Orfeo kok. Kalau urusan gue udah selesai, gue bakal ambil lagi," ujar Zenan meringis. Ia sebenarnya tahu adiknya itu benar-benar keberatan, karena tak biasanya Terence menolak permintaan tolong dari saudaranya sendiri.


"Besok weekend, gue gak mau tahu. Lo jangan ganggu gue di hari itu. Gue juga mau nikmatin waktu sama keluarga gue kali, apalagi istri gue."


"Kalau lo kangen Keyna, suruh aja dia ke kantor lo kalau udah pulang kerja. Mau berduaan di rumah kayak yang Ansel sama Savero mau dikasih adik aja," timpal Zenan santai, seperti tak bersalah.


"Adik? Ya gak mungkin, gak dibunuh papanya Keyna aja gue udah bersyukur. Dua anak cukup, apa gue gak dipelototin dua anak gue kalau sampai ngasih adik, cowok semua anak gue ya."


"Nah itu, lo juga apa beratnya minta tolong ke Ansel? Anak lo itu pasti mau. Ansel yang baik hati," ujar Zenan.


Terence terdengar berdecak. "Gampang lo ngomong gitu? Udah dulu, kerjaan gue banyak!"


Sambungan telepon telah terputus, Zenan melihat layar ponselnya itu yang semula ia tempelkan di telinganya.


Hingga kemudian, ia mengecek ke aplikasi chat di ponselnya itu.


Papa, apa Papa beneran gak bisa jemput Liora dan Kakak nanti di sekolah?


Ya. Itu pesan dari Liora, putri keduanya dengan Willa.


Zenan terdiam. Jari-jarinya menggenggam ponsel lebih kuat, seolah hanya itu yang menahan tubuhnya tetap tegak. Ia tidak langsung membalas. Bukan karena tak peduli-justru karena ia terlalu peduli, tetapi bingung memilih mana yang harus ia prioritaskan hari ini.


Ia sudah terlanjur berjanji pada Zefanya. Dan ia juga baru saja berkenalan dengan putrinya itu. Hubungan mereka terlalu rapuh untuk ia kecewakan lagi-begitu pikirnya.


Tetapi Nara dan Liora, anaknya yang ia besarkan sejak lahir. Anaknya dengan Willa, istrinya-perempuan yang ia cintai.


Zenan menutup matanya. Hening beberapa detik. 


Kemudian... ia mengetik balasan yang bahkan membuat dadanya sendiri terasa sesak.


Zenan:


Papa gak bisa hari ini, Sayang. Papa ada urusan yang gak bisa ditinggal. Liora sama Kakak sabar dulu ya... nanti Papa kabarin buat ketemu kapan.

Lihat selengkapnya