Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #20

20. Surat gugatan

Siang itu, apartemen Willa dipenuhi cahaya keemasan dari matahari yang menembus kaca jendela besar. Suasananya tenang-hanya suara AC dan detakan jam dinding yang terdengar.


Kedua anaknya, Nara dan Liora masih berada di sekolahnya.


Willa berdiri di depan kitchen counternya, ia memegang sebuah map coklat yang tak lain berisi dokumen-dokumen penting. Tangannya sudah terasa dingin yang bukan diakibatkan karena pendingin di ruangan ini, melainkan karena keputusan besar yang terus berputar di kepalanya sejak beberapa hari terakhir.


"Lo beneran sama keputusan lo ini, Kak?" tanya Alano, adik Willa.


"Laki kayak gitu ngapain juga dipertahanin, dia udah bikin kakak lo sakit," Lian, yang merupakan kakak dari Willa menimpali.


Willa tidak langsung menjawab. Ia memandang lurus ke arah depan, pandangannya seolah kosong.


"Gue udah capek sama semuanya. Gue rasa, ini semua emang udah harus dicukupin. Gue merasa udah gak bisa kalau harus lanjut, daripada gue nyiksa diri gue sendiri," jawabnya yang tak berkedip beberapa saat. Hingga kemudian, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.


Lian menarik napas dalam-dalam. "Gue ngerti banget, dari awal gue tahu masalah lo, gue udah bilang kalau lo gak sanggup... jangan dipaksa. Gue yang gak tega, ngelihat lo disakitin sampai segitunya aja udah bikin gue nahan gak ngehajar Zenan."


Alano memerhatikan kakaknya itu. "Betul Kak, gue tahan-tahan banget gak ngehajar si Zenan karena lo yang minta. Kurang sabar apa gue sama Kak Lian, Kak?" ujarnya ke Willa.


"Lo berhak bahagia. Jangan biarin diri lo terus tersiksa. Nara sama Liora juga pasti cepat atau lambat bakalan tahu kan. Apalagi, soal anak itu yang juga masih saudaranya..." lanjut Lian, namun suaranya melemah di akhir kalimat seolah menahan kekesalan yang sejak tadi memenuhi dadanya.


Willa memejamkan mata. Dadanya bergemuruh.


"Gue takut nantinya mereka bakalan tahu dengan cara yang salah..." bisiknya. "Gue gak mau anak gue ngerasa kurang, atau merasa digantiin sama anak lain."


Alano mendengus pendek. "Masalahnya, Kak... Zenan sendiri yang bikin situasinya kayak gini. Dia bikin semua masalah ini, tapi seakan-akan dia korban banget dan... bahkan hampir gak ngakuin kesalahannya."


Willa membuka mata perlahan. Ada kilatan luka, tapi juga kelelahan yang dalam.


"Iya," gumamnya lirih. "Dia selalu bilang kalau ini semua gak disengaja, atau karena situasi yang... gak memungkinkan. Tapi di luar itu semua, jujur kalau buat ngelanjutin lagi gue rasanya... gak tahu, sekarang aja gue udah ngerasa nyerah."


Lian menoleh perlahan ke arah map coklat di tangan Willa yang memegang map yang sejak tadi hanya digenggam. Ada jeda beberapa detik sebelum ia akhirnya bicara dengan suara pelan namun tegas.


Lian menghela napas. "Kalau gitu kapan lo mau serahin surat itu ke pengadilan?"


Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dalam ruangan. Sunyi sesaat. Willa menegang. Jemarinya mengepal pada tepi map, seolah dokumen itu bisa meledak kapan saja.


Ia menelan ludah, dadanya naik turun. "Secepatnya. Karena memang rasanya... gue juga udah gak memungkinkan buat lanjutin rumah tangga gue sama dia. Mungkin... semuanya udah hancur."


Willa ingat senyum itu, tawa itu, dan raut bahagia mereka, juga... kedekatan mereka. Sesuatu yang terakhir kali dilihatnya... membuatnya semakin yakin dengan keputusannya kali ini.


***


Siang itu, suasana kantor Zenan terasa sepi karena ini merupakan jam istirahat. 


Ruangan Zenan sendiri tampak rapi, namun seperti tegang dan berlawanan dengan orangnya yang sejak tadi terlihat gelisah.


Zenan duduk di kursinya, membuka berkas-berkas yang tadi diberikan oleh sekretarisnya. Matanya terasa lelah, tapi pikirannya lebih lelah lagi. 

Lihat selengkapnya