Pagi itu, ruang tunggu rumah sakit tampak lengang. Aroma antiseptik bercampur wangi obat-obatan samar memenuhi udara. Valeria duduk diam di sebuah kursi panjang, kedua tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia menatap lantai, mendengarkan detail jam dinding yang terasa begitu lambat... atau justru terlalu cepat.
Pintu ruangan dokter terbuka.
"Atas nama Ny. Valeria?" panggil seorang perawat.
Valeria berdiri. Langkahnya terasa berat, tapi ia memaksa wajahnya tetap tenang saat masuk ke ruang dokter.
Ruang praktik dokter selalu punya aroma antiseptik yang khas dan menenangkan bagi beberapa orang, namun menyesakkan bagi Valeria. Lampu putih di langit-langit tampak terlalu terang, menusuk mata yang sejak tadi terasa berat.
Valeria duduk di atas kursi pasien, tangan dinginnya meremas ujung tas kecil di pangkuan.
"Baik, Ibu Valeria... hasil lab anda sudah keluar semua." Suara dokter itu terdengar hati-hati, bahkan terlalu hati-hati.
Valeria tentu langsung mengetahuinya, ini bukan hasil yang bagus.
Dokter menunjukkan tabel hasil darahnya. Angka-angka yang beberapa bulan lalu masih normal kini bergeser jauh.
"Autoimun anda... saat ini sedang flare cukup parah," ucap dokter. "Peradangan di tubuh naik signifikan. Bagian ginjal juga mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan."
Sebilah rasa asing menusuk perutnya. Bukan sakit fisik-lebih seperti... ketakutan.
"Pasien penderita autoimun seperti Ibu, biasanya kuat. Tapi kalau flare sebesar ini terus berlanjut, Ibu akan sering drop. Bahkan, ada kemungkinan bisa pingsan atau—"
Dokter terdiam, menahan kata-kata yang pasti tidak ingin Valeria dengar.
Valeria mengangguk pelan, meski matanya mulai memanas. "Terapinya masih bisa... nahan tapi kan, Dok?"
"Bisa. Tapi anda juga harus siap. Jika kondisi nantinya akan semakin menurun. Ibu perlu pendampingan kalau sewaktu-waktu tubuh Ibu melemah."
Pendampingan.
Itu kata yang membuat jantungnya mencelos.
"Untuk sekarang," lanjut Dokter, menuliskan resep. "Kita tingkatkan dosis obat. Tapi Ibu harus lebih perhatikan diri Ibu, jangan stres. Tekanan emosional justru akan membuat flare bisa semakin parah."
Valeria tersenyum kecil, senyum yang tak lain merupakan senyum yang tampak sangat getir. Mendengar kata stres tidak membantu sama sekali menurut dirinya.
"Terima kasih, Dok..." ucapnya pelan.
Ia hanya ingin keluar, menjauh, menelan kenyataan ini sendirian seperti biasanya.
***
Di luar rumah sakit, angin sore terasa dingin di kulitnya. Valeria memegang pundaknya sendiri, mencoba menopang tubuh yang mulai terasa berat. Hingga perlahan, ia menuju pintu depan mobilnya-pintu kemudi, dirinya memang pergi tanpa supir.
Selama ini ia merasa kuat, ia bisa bekerja, mengurus Zefanya, dan mengurus semuanya sendirian tanpa bantuan siapa pun. Dirinya yang sudah tak memiliki orang tua, dan juga merupakan seorang anak tunggal. Beberapa waktu belakangan ini, ia menahan semua rasa sakit yang mulai sering terjadi pada sendinya, rasa pusing, dan kelelahan yang datang mendadak.
Tapi hari ini berbeda.
Hari ini ia merasa... kalah.
Dan ketakutannya datang dalam bentuk bayangan kecil, Zefanya yang akan tumbuh besar dan kemungkinan... tanpa dirinya. Zefanya yang selama ini hanya memiliki dirinya, semenjak kakek neneknya yaitu orang tua Valeria tiada beberapa tahun lalu.
"Mommy gak bisa bayangin kamu akan sendirian, Zef..." Sebening kristal cair turun ke pipinya dari arah matanya. "Makanya, aku memperjuangkan semuanya... tentang anakku, Zefanya... pada ayahnya, Zenan. Karena hanya Zenan yang bisa dan punya hubungan yang dekat dengan anakku. Zenan harus bertanggung jawab. Karena... hanya dia," batin Valeria berbicara.