Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #22

22. Ketakutan dan janji

Zenan terdiam.


Bukan diam yang kosong... tapi diam yang terasa berat. Diam yang mengandung begitu banyak kata yang tak sempat atau tak sanggup diucapkan.


"Jangan berbicara seperti itu dulu, gak akan ada yang tahu ke depannya," ucap Zenan, tatapannya yang tadinya menatap lurus ke depan kini tertuju pada kedua mata Valeria.


Valeria membuang wajah. "Ini bukan penyakit sembarangan, dan hasil check up terakhir aku... aku rasa sudah gak ada harapan lagi untuk aku sembuh."


Zenan menggeleng beberapa kali hingga menunduk, ia terdengar menghela napas. "Apa Zefanya gak akan sedih kalau tahu?"


Valeria cepat menoleh dan menatap Zenan kembali. "Dia jangan sampai tahu, aku gak mau dia sedih. Jangan bicara hal buruk apa pun ke Zefanya." Ia menggeleng.


"Kalau nantinya dia bertanya?" Zenan menatap Valeria serius.


Valeria menatap Zenan tajam. "Zen, aku gak minta kamu buat menceraikan istri kamu, demi aku atau Zefanya. Aku gak minta itu. Yang aku mau selama ini... aku cuma minta kamu menjadi ayah untuk anak kamu sendiri, Zefanya. Aku ingin kamu menerimanya, menganggapnya sebagai seorang anak yang kamu sayangi, kamu kasihi dengan sepenuh hati kamu sebagai seorang ayah untuknya. Tentunya... tanpa membedakannya dengan anak kamu yang lain. Aku mau kamu peduli dan bertanggung jawab sepenuhnya pada Zefanya."


Zenan menelan ludah pelan. Kata-kata Valeria menamparnya lebih keras daripada emosi apa pun yang sedang ia coba tahan.


"Aku gak pernah... gak mau menerima dia," ucap Zenan perlahan. "Cuma... semua ini datang terlalu tiba-tiba."


Valeria terkekeh singkat-bukan karena lucu, tetapi getir. "Terlalu tiba-tiba? Zen... dia udah dua belas tahun. Dua belas tahun, dan kamu baru tahu dia ada di dunia ini beberapa minggu lalu." Ia menunduk, menekan dada yang terasa sesak. "Gak ada yang lebih tiba-tiba dari itu.


Zenan tak bisa menyangkal. Dia kembali jatuh di antara mereka. Berat, menggantung, dan penuh hal yang keduanya tak ingin dengar tapi harus dihadapi.


Valeria menarik napas panjang, menatap Zenan mantap. "Kalau aku sampai gak ada nanti... aku butuh kamu siap, Zen. Siap jadi tempat untuk dia pulang. Siap jadi orang yang dia percaya nantinya. Siap jadi rumah buat dia. Dan siap untuk jadi orang yang akan selalu melindunginya."


Zenan memijit dahinya, suaranya parau. "Kamu berbicara seperti itu seakan waktu kamu sudah tinggal sebentar, Val."


Valeria terdiam sesaat, menunduk halus. "Sebenarnya... iya." Nadanya lembut, tapi kenyataannya menghantam keras.


Zenan menegang. Napasnya pecah, seperti seseorang menarik karpet di bawah kakinya. "Berapa lama?"


"...Aku gak tahu pasti." Valeria menatap jari-jarinya sendiri. "Tapi kalau flare aku seperti minggu ini terus terjadi, ginjal aku bisa gagal berfungsi kapan saja. Dokter sudah bilang... aku harus siap dengan kemungkinan apa pun yang akan terjadi nantinya."


Zenan memalingkan wajah, menahan napas yang mulai terbata. "Apa kamu nyembunyiin ini dari semua orang?" tanya Zenan lemah.


Valeria tersenyum tipis, sedikit bergetar. "Aku gak punya keluarga lagi selain Zefanya. Mau sembunyiin dari siapa? Lagi pula... aku takut kalau aku cerita semuanya... orang-orang malah memandang aku kasihan. Aku gak mau hidup dengan belas kasihan orang. Aku cuma mau... Zefanya tetap bahagia, dan selalu bahagia... apa pun yang akan terjadi nantinya."


Zenan menatapnya, dan kali ini bukan rasa kesal yang muncul. Bukan juga amarah, ataupun pun bingung.


Melainkan... rasa bersalah yang tiba-tiba memukul dadanya begitu kuat, dan rasa iba itu muncul di dalam hatinya.


"Aku akan menjaga Zefanya, kamu gak perlu khawatir. Dia anakku juga, dan aku ayahnya. Gak akan ada juga yang aku beda-bedakan, aku menyayangi dia sepenuh hati," ucapnya.


Valeria menatap lelaki di hadapannya dengan serius. "Apa kamu bisa janji?"


Zenan mengangguk mantap. "Untuk apa aku berbohong? Aku janji akan melakukan itu, untuk seorang anak yang merupakan anak kandungku sendiri."


Valeria merasa terharu, matanya berkaca-kaca. "Aku cuma seorang ibu yang sakit. Yang takut anaknya nanti akan sendirian. Dan satu-satunya orang yang bisa aku percaya untuk menjaga dia dan jadi tempatnya pulang... cuma kamu. Karena kamu, ayahnya. Gak ada orang lain."


Zenan menatap Valeria lama, sebelum akhirnya kembali membuka suara. "Kamu sebisa mungkin, jangan menyerah dulu."

Lihat selengkapnya