Valeria berdiri perlahan, menatap punggung Zenan yang sudah berjalan menjauh meninggalkan kafe. Suara langkahnya semakin menjauh, lalu hilang sepenuhnya begitu pintu kaca menutup otomatis di belakangnya.
Untuk satu detik, Valeria masih bisa menahan diri. Tapi tubuhnya... tidak.
Begitu ia hendak mengatur napas, pandangannya mulai berputar. Ada sensasi berat di bagian tengkuk, seakan dunia tiba-tiba bergerak lebih cepat dari dirinya. Jari-jari tangannya kesemutan. Lututnya melemas. Bukan sekadar lelah... ini flare yang datang mendadak.
"A-h..." Napasnya tercekat.
Ia berusaha memegang sisi meja, tapi pegangannya tak kuat. Dalam sepersekian detik, tubuhnya ambruk. Kursi tergeser, bunyi gelas bergemeritik. Valeria jatuh ke lantai, tubuhnya limbung sebelum akhirnya benar-benar tak bisa menahan beban.
"Mba! Mba! Astaga!"
Beberapa pengunjung langsung berdiri, panik. Ada yang jongkok mendekat, mencoba menepuk-nepuk pipinya.
"Bu! Bu! Sadar, Bu!"
Tapi Valeria tidak merespons.
Seseorang meraih ponsel yang terjatuh di lantai, layarnya menyala dengan jelas—dan nama kontak terakhir yang tertera di sana... Zenan.
Tanpa pikir panjang, seseorang itu menekan telepon.
***
Zenan baru saja menyalakan mesin mobilnya. Perasaannya campur aduk, kacau, dan penuh rasa bersalah yang menyesakkan. Ia bahkan belum sempat menata napas setelah percakapan yang terasa berat tadi.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat jantungnya menegang—Valeria.
Ia langsung mengangkat. "Halo? Val?" suaranya terdengar tegang.
Bukan suara Valeria yang menjawab.
"Maaf Pak, saya lihat kontak Bapak yang terakhir dihubungi beliau. Saya cuma mau mengabari, kalau pemilik ponsel barusan saja jatuh pingsan. Saya juga tadi melihat beliau bersama seorang laki-laki, saya tidak tahu siapa, atau barangkali itu Bapak."
Jantung Zenan berhenti berdetak sesaat. Suara dari seberang terdengar sedikit ricuh.
"Apa?!" suaranya langsung naik. "Dia pingsan?!"
"Iya, Pak. Gak sadar sama sekali. Kita mau panggil ambulans, tapi—"
"GAK USAH! Saya masih deket! Saya balik sekarang! Makasih, Pak."
Zenan melempar ponsel ke kursi penumpang dan langsung memutar kemudi, hampir melompati media jalan karena terburu-buru.
Mobilnya berbalik kasar, banyak menggesek aspal dan mengeluarkan suara. Zenan tak peduli. Napasnya tersengal, tangannya gemetar. Ia memukul seiring dengan keras.
"Valeria... kenapa bisa gini?" desisnya sambil menggigit bibir.
Ia baru meninggalkan kafe itu beberapa menit yang lalu. Dan sekarang... dirinya mendapat kabar seperti ini.
***
Zenan tiba di kafe, di sana sudah ramai. Beberapa orang mengelilingi Valeria yang terbaring di lantai, tubuhnya lemas, wajahnya pucat seperti kertas. Napasnya pendek, hampir seperti tidak cukup udara masuk. Matanya terpejam rapat, seolah menahan rasa sakit yang tidak bisa diucapkan.
"Valeria!"
Zenan berlari ke arahnya, lututnya langsung jatuh ke lantai. Ia menahan napas, tangannya gemetar saat menyentuh pipi Valeria yang dingin.
"Val... buka mata kamu sedikit!"
Tapi Valeria tidak bergerak.
Zenan memandang orang-orang di sekelilingnya, matanya memerah. "Tolong minggir... kasih ruang."
Orang-orang menyingkir perlahan, memberi Zenan ruang. Napasnya mulai memburu, hampir tidak teratur. Dadanya seperti terasa sesak melihat perempuan yang tadi masih bicara dengannya kini tak berdaya seperti itu.
"Saya bantu angkat, Pak!" salah satu pengunjung menawarkan.
Namun Zenan menggeleng cepat, matanya tajam namun bergetar. "Gak usah! Saya bisa sendiri!"-
Tangannya menyelip di bawah tubuh Valeria, meraih punggung dan lipatan lututnya.