Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #24

24. Tanda tangan?

Tolong tanda tangani cepat surat perceraian itu.


Willa tidak memberi embel-embel lain. Tidak ada penjelasan panjang, ataupun keraguan.


Zenan menarik napas panjang lalu melangkah masuk. Resepsionis mengenalnya dan langsung mempersilakan. "Silakan naik, Pak. Ibu Willa sedang di ruangannya."


Langkah Zenan terdengar berat. Setiap langkah seperti menambah beban di dadanya.


Ketika ia mengetuk pintu dan masuk, Willa sedang berdiri di dekat jendela, menatap keluar. Mengenakan blouse putih dengan rambut tergerai.


Willa mendengar pintu ruangannya terbuka, ia pun menoleh. Dirinya terkejut sebentar, namun berusaha menutupi. Di dekat pintu itu, suaminya berdiri di sana dan perlahan melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanyanya dengan nada datar. Tapi mata dan suaranya sama sekali tak menunjukkan kehangatan yang lebih menyerupai tembok tebal yang menahan.


Zenan menghela napas panjang, menahan semua rasa sakit, penyesalan, dan rasa bersalah yang sudah lama menggulung hatinya. "Aku... aku cuma mau minta satu hal, Will." Ia membuka map berbasis cokelat yang dibawa untuk mengambil kertas gugatan perceraian di dalamnya, lalu meletakkannya di atas meja. Tangan Zenan gemetar sedikit. "Aku gak akan menandatangani surat ini."


Willa memicingkan mata. "Kenapa? Aku gak mau tahu, kamu harus menandatangani surat itu. Dan lebih cepat akan lebih baik."


"Kenapa kamu bisa sampai bertindak seperti ini? Aku gak mau kita cerai. Kamu minta waktu untuk sendiri beberapa minggu ini, aku terima. Tapi untuk benar-benar berpisah, aku gak mau. Aku gak akan pernah lepasin kamu. Aku juga masih sayang dan cinta sama kamu, Willa. Selalu." Zenan menatap Willa penuh keseriusan dan permohonan. "Penjelasan aku gak cukup buat kamu tentang masalah itu?"


Willa melangkah ke arah meja, mengambil surat perceraian yang tadi diletakkan Zenan. "Penjelasan kamu itu datang terlambat. Terlalu terlambat, Zen. Lagi pula, sekarang kamu juga sudah bersama Valeria kan, kamu sekarang punya dia. Buat apa lagi adanya aku?"


Zenan mengerutkan alis. "Apa maksud kamu? Kenapa kamu bicara begitu? Aku udah bilang semuanya. Aku juga gak pernah selingkuh. Aku gak pernah selingkuhin kamu." Suaranya mulai pecah, tapi ia berusaha menahan. "Will—"


Willa menatapnya dengan mata yang tajam namun bergetar tipis, bukan karena marah tapi karena kecewa yang sudah menumpuk. "Aku bukan cuma butuh kalimat itu." Ia menahan napas sejenak. "Kamu... kamu udah tutupin semua masalah besar itu dari aku, Zen. Suami aku sendiri. Aku gak perlu memikirkan lebih panjang ataupun lebih dalam lagi, bagi aku semuanya udah jelas. Kamu gak perlu menjelaskan apapun lagi."


Zenan tampak semakin gelisah. "Aku tutupin masalah itu... karena aku takut. Aku sama sekali gak bermaksud apa-apa, Will. Aku gak pernah mau ngelakuin hal yang bikin kamu ngerasa dikhianati. Semua yang aku lakukan justru karena aku takut kehilangan kamu."


Willa menatapnya datar, tanpa sedikit pun retak di wajahnya. "Kamu takut kehilangan aku... tapi semua yang kamu lakukan justru bikin aku pergi," gumamnya.


"Izinin aku untuk perbaiki semuanya, kalau di mata kamu seluruhnya sudah terlalu fatal. Aku minta maaf. Tolong... kasih aku kesempatan. Aku mohon, Will... jangan ambil keputusan terlalu cepat, aku gak mau pisah dari kamu dan rumah tangga kita hancur."


"Keputusan aku sudah bulat." Nada Willa tidak bergetar. Tegas. Seperti pintu yang dikunci dari dalam. 


Zenan melangkah maju, kedua tangannya terulur seolah ingin meraih bahu Willa.

Lihat selengkapnya