Valeria semakin melemah.
Langkahnya kini nyaris selalu goyah setiap kali ia bangun dari tempat tidur. Wajahnya pucat, pipinya menipis, dan matanya sering tampak koson yang seolah ia mencoba berpura-pura kuat, padahal tubuhnya sudah lama berhenti bekerja sama dengan baik.
Di meja makan, sendok sup yang ia pegang bergetar. Setiap sesendok makanan seolah perjuangan.
Zefanya melihat itu. Ia melihat semuanya. Dan belakangan ini... ia merasa ada yang janggal dari ibunya.
"Mommy... Mommy kenapa?" tanya Zefanya lirih, ia sudah berdiri di sampingnya ibunya itu. "Mommy baik-baik saja, kan?"
Valeria tersenyum pelan. Senyum yang dipaksakan, tapi hangat. "Mommy gapapa, Sayang."
Raut wajah Zefanya terlihat khawatir. "Tapi Zef lihat akhir-akhir ini, Mommy seperti lain. Bukan seperti Mommy yang biasanya, Mommy lagi gak enak badan, ya? Jangan bohong sama Zef. Zef khawatir lihat Mommy seperti ini," ucapnya.
Valeria terdiam beberapa saat, ia lalu menatap anaknya lagi. Senyuman lembut yang selalu ditampilkan ke Zefanya. "Mommy cuma kecapekan, Zef. Mommy tidak apa-apa, Zef jangan khawatir ya. Lebih baik, Zef fokus belajar. Sebentar lagi kan mau ujian, Sayang..." Ia mengusap puncak kepala anaknya, kemudian menciumnya perlahan dengan penuh kasih sayang.
Zefanya menunduk, matanya memerah. "Tapi Mommy gak seperti biasanya, wajah Mommy pucat. Mommy juga sering tidur terus akhir-akhir ini, terus... Mommy kalau jalan suka jatuh..." Suaranya bergetar.
Air mata Valeria jatuh sebelum ia sempat menyembunyikannya.
Ia mengusap rambut Zefanya, mencoba menenangkan. "Sini... Sayang. Peluk Mommy."
Zefanya memeluknya erat. Terlalu erat. Seperti memeluk sesuatu yang akan hilang.
"Mommy... Mommy sakit apa?" tanya Zefanya kecil, suaranya nyaris pecah. "Jangan bohong sama Zef, Zef tahu Mommy biasanya selalu kuat. Tapi sekarang... Zef rasa Mommy lagi sakit."
Pertanyaan itu membuat napas Valeria seakan berhenti sejenak.
Ia sudah lama berusaha menyembunyikan ini dari putrinya, dengan harapan ia bisa sembuh dan tetap selalu bersama Zefanya.
Tapi kenyataannya, semakin hari tubuhnya semakin menolak harapan itu.
"Sayang, Mommy mau pesen ke Zef, boleh?" tanyanya penuh makna, tangannya mengusap kepala anak perempuan itu dengan lembut.
Zefanya menatap ibunya itu, ia mengangguk pelan.
"Kalau misalnya nanti Mommy gak sama Zef, Zef harus tetap jadi anak yang baik, ya. Anak yang nurut, tetap jadi Zef yang seperti sekarang, atau Zef yang lebih baik. Zef yang pinter, Zef yang pengertiann... banget. Nanti ada Papa, Papa akan jaga Zefanya... sampai kapan pun. Mommy berdoa, Zef akan selalu tumbuh menjadi anak yang baik, sehat, dan bisa menjadi kebanggaan banyak orang nantinya. Ya?" lanjut Valeria.
"Kenapa tiba-tiba Mommy bicara begitu?" tanya Zefanya dengan wajahnya yang polos, ia terheran pada ibunya.
"Itu harapan Mommy, Sayang. Mommy percaya Zef bisa seperti itu, iya kan? Zef pokoknya harus bisa. Apa pun yang terjadi nantinya, hidup itu terus berjalan. Semua manusia di muka bumi ini, punya jalan dan takdir yang berbeda-beda... dan kita, sebagai manusia harus bisa menjalani takdir tersebut dengan baik, kita pasti mampu untuk lewatinnya. Begitu juga dengan Zefanya, Mommy yakin Zef anak yang kuat."
Valeria tersenyum, tapi kali ini senyuman itu rapuh. Hampir tidak ada kekuatannya lagi.
"Zef juga harus tahu... Mommy selalu sayang sama Zef, sampai kapanpun, dan apapun yang terjadi. Lebih dari apapun, Mommy sayang sama Zef, selamanya."
Zefanya masih menatap ibunya tanpa benar-benar memahami makna ucapan itu. Ia hanya menganggapnya sebagai ucapan Mommynya seperti biasanya.
"Iya, Mommy. Zef pasti akan banggain Mommy. Zef pengen bahagiain Mommy, bukan Mommy yang bahagiain Zef terus." Ia tersenyum memandang sang ibu, sambil masih memeluk erat Valeria.
Valeria tersenyum tulus, ia mengusap lengan putrinya itu. "Pokoknya selain sama Mommy, Zef harus nurut nantinya sama Papa ya kalau Zef pas sama Papa atau tinggal sama Papa, dan... Zef harus nurut sama orang lain yang juga baik sama Zef, siapapun orang itu, ya?"
Zefanya mengangguk cepat, menyetujui ucapan sang ibu. "Iya, Mommy," ucapnya tersenyum.
Ia semakin merunduk, mendekatkan tubuhnya itu pada Valeria. "Mommy peluk Zef..."
Valeria terkekeh pelan. "Dari tadi udah dipeluk." Ia pun langsung merentangkan tangannya dan menarik sang anak ke dalam pelukannya. Hangat, erat, nyaman, dan... Valeria merasakan hatinya sangat sakit kali ini... terlebih, melihat Zefanya seperti itu.
Mereka pun saling memeluk sangat lama. Hingga tak Zefanya sadari, ibunya itu telah menutup mata.