Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #26

26. Kematian

Zenan ikut berdiri kala Zefanya telah lebih dulu berdiri darinya, tangannya digandeng anak itu untuk berjalan mendekat ke arah dokter.


"Dokter, gimana keadaan Mommy? Mommy baik-baik saja, kan?" .


Pertanyaan polos anak berusia dua belas tahun itu membuat semua orang yang ada di sana terasa hati mereka mencelos begitu saja kala mendengarnya, wajah sembab anak itu membuat mereka tidak tega.


"Iya, Dok. Bagaimana dengan keadaan Valeria?" Zenan bertanya ulang, suaranya terdengar tenang.


Dokter itu menatap Zenan dan Zefanya bergantian, sejenak ragu harus mulai dari mana.


"Keadaan Ibu Valeria... saat ini bisa dibilang sangat kurang baik," ucap dokter itu perlahan. "Saat tiba di sini, tekanan darahnya sangat rendah, saturasinya turun drastis, dan tubuhnya mengalami kelelahan ekstrem. Kami juga menemukan tanda-tanda autoimunnya semakin parah."


Zefanya menggenggam tangan Papanya lebih erat. Zenan refleks menurunkan tubuhnya sedikit, merangkul bahu kecil putrinya.


Dokter menghela napas. "Kondisi saat ini, terbilang kritis."


Zefanya langsung menegakkan tubuhnya, napasnya tercekat. "Mommy... Mommy udah bangun, Dok?"


"Belum, Nak. Kalau mau jenguk, boleh. Tapi pelan-pelan ya, jangan buat beliau kaget."


Zefanya mengusap air matanya yang kembali turun, ia kemudian menoleh pada Zenan. "Papa, ayo ke Mommy..." katanya.


***


Zenan membuka pintu perlahan, takut suara kecil dari engsel pun akan mengganggu yang ada di dalam ruangan.


Ruangan itu tenang, hanya dihiasi monitor yang terdengar pelan. Udara terasa lebih dingin... atau mungkin itu hanya perasaan Zenan, karena melihat sosok Valeria di atas ranjang membuat dadanya seketika mengencang. 


"Mommy..." bisik Zefanya pelan, nyaris seperti takut kalau suara keras sedikit saja akan membuat ibunya terganggu.


Mata Valeria perlahan terbuka, merasa ada suara lembut yang memanggilnya dan itu suara yang paling dikenal dan sangat disayanginya.


Valeria yang terbaring lemah, kulitnya pucat dengan bibir yang kering, rambut sedikit berantakan di sisi bantal. Selang infus menancap di salah satu lengannya.


Zenan berjalan pelan mendekat ke arah putrinya. Ia menarik kursi untuk Zefanya agar lebih dekat dengan Valeria, lalu ia sendiri berdiri tepat di sisi ranjang.


"Mommy..." ulang Zefanya, kini sedikit lebih jelas, meski suaranya masih bergetar.


Valeria mengerjap pelan. Tatapannya masih buram, masih berusaha fokus pada cahaya di depannya... hingga akhirnya menangkap sosok gadis kecil dengan mata sembab yang tentu sangat ia kenal.


"...Zef...?" panggilnya lirih, napasnya halus sekali.


Dalam sekejap, Zefanya mencondongkan tubuh, memegang tangan ibunya yang terkulai lemah.


"Mommy!" serunya-pelan, tapi penuh rasa lega yang hampir menyakitkan. "Mommy bangun... Mommy bikin Zef takut..."


Zenan menelan ludah. Dadanya sesak. Ia mengusap puncak kepala putrinya pelan sambil menahan emosi sendiri.


"Zenan..." Bibir Valeria bergerak, retak, nyaris tak bersuara. "Maaf... aku buat kalian khawatir."


"Kamu gak perlu minta maaf," ucap Zenan, nada suaranya sedikit tegas namun lembut. 


"Mommy sebenernya sakit apa, sih? Kenapa Mommy bisa gini?" Zefanya terisak di samping ibunya dan memeluk pelan.


"Gak, Sayang... Mommy gak apa-apa. Mommy ada di sini... Zef jangan nangis..." bisik Valeria, tangannya menyentuh kepala sang anak yang menempel ke bahunya.


Zefanya menggeleng pelan beberapa kali. "Mommy bohong! Zef gak percaya!" katanya di sela isakan. "Pokoknya Mommy harus sembuh! Zef gak mau Mommy kenapa-napa."


Valeria tersenyum tipis-senyum yang sangat kecil, di dalam hatinya ia tak yakin dengan ucapan sang anak. "Mommy akan berusaha... buat Zef."


"Mommy janji, kan? Harus sembuh habis ini!" kata Zefanya.


Valeria masih berusaha memegang tangan Zefanya, meskipun genggamannya semakin lama semakin melemah.


"Mommy akan... berusaha..." ulangnya pelan, napasnya terdengar berat, seperti setiap tarikan udara menghadapi perlawanan besar dari dalam tubuhnya. "Zef... jangan takut... Mommy-"


Namun kalimat itu terputus.


Tiba-tiba dada Valeria naik turun dengan tidak beraturan. Matanya berkedip cepat, kemudian melirik ke samping seperti sedang berusaha mencari fokus yang hilang.


"Mommy?" Zefanya langsung menegakkan tubuhnya. "Mommy kenapa?" suaranya panik.


Zenan mengernyit, menyadari sesuatu yang tidak normal. "Val?" panggilnya pelan sambil menyentuh bahu Valeria.


Lihat selengkapnya