Ponselnya bergetar ketika ia baru selesai menyiapkan sarapan untuk kedua putrinya. Willa melihat nama pengirim pesan, yang tak lain Zenan suaminya sendiri.
Will... Valeria meninggal.
Maaf untuk hari ini aku belum bisa untuk bertemu dengan Nara dan Liora lagi.
Tolong kamu sampaikan ke mereka, aku gak tega mau hubungin mereka langsung.
Sekali lagi, maafin aku...
Kalau kamu berkenan, kamu boleh ke sini.
Willa terpaku beberapa detik. Kata meninggal terasa seperti genangan yang merambat naik ke seluruh tubuhnya.
Valeria...?
Valeria meninggal?
Jari-jari Willa gemetar saat tanpa sadar ia menyentuh tepi meja.
"Mama?" Nara memanggil, heran melihat ekspresi ibunya mendadak berubah.
Willa tersentak, menahan napas sejenak agar suaranya tidak pecah. "Iya, Sayang... makan dulu, Mama ada telepon sebentar."
Ia berjalan sedikit menjauh dari kedua anaknya, duduk perlahan, memegangi ponsel dengan kedua tangan seperti benda itu tiba-tiba menjadi terlu berat.
Valeria...
Tentu ia tahu orang itu, bahkan... mengenalnya. Ia tentu sangat terkejut dengan kabar ini, Valeria pergi begitu saja, ia tak tahu apa pun tentang... sakitnya? Mengapa perempuan itu bisa tiba-tiba meninggal? Sungguh, Willa dibuat bingung dan sangat terkejut.
Napas Willa tercekat.
Tiba-tiba semuanya terasa kosong.
***
Udara pagi itu lembap, tanah masih hujan semalam, Zefanya terlihat tengah memeluk makam ibunya dengan terus menangis. Sementara Zenan, laki-laki yang merupakan ayah Zefanya terus menenangkan putrinya itu sejak tadi.
"Mommy... Mommy kenapa tinggalin Zefanya... Mommy gak sayang lagi sama Zef. Mommy tega sama Zef..." isak Zefanya, kata-kata itu terus berulang, seakan ia memohon mukjizat yang tidak pernah datang.
"Zefanya... Mommy sekarang sudah sama Tuhan, Sayang," bisik Zenan pelan, dengan suara parau. "Mommy sudah gak sakit lagi... Mommy sudah tenang."
Zefanya menggeleng, air mata masih terus mengalir dengan wajahnya yang terlihat sudah sangat sembab. "Kenapa Tuhan ambil Mommy? Kenapa bukan Zef aja yang sakit? Kenapa Mommy harus pergi?"
Zenan memejamkan mata kuat-kuat. Itu pertanyaan yang bahkan ia sendiri tidak punya jawabannya.
Tanpa mereka sadari, begitu pun dengan Zenan sendiri. Ada seseorang yang berdiri melihat dua orang itu-Zenan, dan seorang gadis kecil... Zefanya yang terus menangis sejak tadi sambil memeluk makam sang Ibu.
Willa. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk datang ke pemakaman ini. Dirinya tidak datang dengan niat buruk atau apa pun itu, melainkan karena ia juga mengenal Valeria dan... Valeria memiliki seorang putri, seperti dirinya yang juga memiliki dua anak perempuan.
Dan kini... Willa melihat itu. Kesedihan Zefanya di makam ibunya. Jujur saja, Willa tak tega melihat kesedihan seorang anak perempuan yang seumuran dengan putrinya. Ia tak bisa membayangkan jika putrinya yang berada di posisi seperti itu.
Kepalanya menengadah sebentar ke atas, kemudian sedikit menunduk dengan tangan yang mengusap area matanya. Air matanya hampir saja tak bisa ditahan, hanya karena melihat Zefanya...
"Sayang, dengar Papa..." Zenan perlahan mencondongkan tubuh, memegang pundak Zefanya yang mungil. "Mommy sudah gak sakit lagi. Mommy sekarang ada di surga, Zef. Mommy lihat Zef dari atas sana."
"Tapi Zef mau Mommy di sini!" Zefanya meronta, bukan untuk kabur, tapi untuk kembali memeluk gundukan tanah itu. "Zef mau peluk Mommy! Mau dengar Mommy. Mau Mommy ada sama Zef kayak biasanya..."
Zenan menarik napas panjang, terlihat ia juga seperti menahan untuk tidak mengeluarkan air mata. "Papa tahu... Papa tahu kamu sayang banget sama Mommy. Tapi Tuhan sayang Mommy juga, Sayang. Tuhan lebih sayang sama Mommy Zef."
Zefanya menatap ayahnya dengan mata yang bengkak, merah, penuh sakit yang belum bisa dipahami oleh anak kecil. "Tuhan lebih sayang Mommy dari Zef?" gumamnya lirih.
Zenan mengangguk pelan. "Zef memang sayang Mommy. Tapi, ada Tuhan yang lebih sayang sama Mommy. Tuhan gak mau Mommy lebih capek dan lebih sakit lagi. Tuhan mau Mommy istirahat, Sayang. Mommy sudah berjuang selama ini..."
Zefanya memejamkan mata, wajahnya menempel di bahu ayahnya. Tangisnya kembali pecah, lebih pelan... tapi jauh lebih menyedihkan.
"Papa..." suaranya hampir tidak terdengar. "Zef... takut..."
Zenan menelan ludah, menahan tangis. Ia mengusap rambut Zefanya lembut. "Papa di sini. Papa gak akan ke mana-mana. Kamu sama Papa... kita sama-sama terus, ya? Zef jangan takut..."