Malam turun perlahan, menyelimuti rumah itu dengan keheningan yang terasa lebih berat dari siang tadi.
Lampu-lampu taman menyala satu per satu, memantulkan bayangan pepohonan di dinding rumah. Dari luar, rumah Valeria masih tampak megah dan utuh. Namun di dalamnya, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi apa pun.
Zenan berdiri di depan jendela ruang tengah, menatap halaman yang basah oleh empunya malam. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan hampir pukul sembilan. Hampir terlalu larut untuk seorang anak seusia Zefanya terus terjaga dalam kesedihan, terlalu sunyi untuk rumah yang baru saja kehilangan pemilik hatinya.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menuju lantai dua.
Pintu kamar Zefanya setengah terbuka. Lampu kamar menyala terang. Zefanya duduk di atas ranjang, memeluk boneka besar sambil menatap kosong ke arah jendela. Surat Valeria terlipat rapi di tangannya.
"Zef," panggil Zenan pelan.
Zefanya menoleh. Matanya merah, tapi tidak lagi menangis. Justru itu membuat dada Zenan semakin sesak.
"Papa masuk ya," ucapnya hati-hati.
Zefanya mengangguk kecil.
Zenan duduk di kursi dekat ranjang, posisinya sejajar dengan anak itu. Ia diam sejenak, mencari kata yang tepat.
"Udah malam," katanya akhirnya. "Zef mau ikut pulang sama Papa?"
Zefanya tidak langsung menjawab. Tangannya mengeratkan pelukan pada bonekanya.
"Kita pulang ke rumah Papa," lanjut Zenan lembut. "Di sana ada kamar buat Zef. Kalau Zef di sini, nanti Zef sendirian. Zef mau pulang sama Papa, kan?"
Zefanya menggeleng pelan.
"Zef mau di sini," jawabnya lirih, tapi tegas.
Zenan terdiam. "Zef gak mau ikut pulang sama Papa? Kita ke rumah Papa, Sayang. Di sana, rumah Zef juga."
Zefanya menunduk. "Kalau Zef ke rumah Papa... Mommy gimana?" Suaranya bergetar. "Zef mau di sini aja, Zef masih mau sama Mommy. Kalau Zef pergi, nanti Zef gak bisa rasain adanya Mommy lagi. Zef gak mau." Ia menggeleng.
Zenan menelan ludah. Ia merasakan logika orang dewasa runtuh di hadapan luka seorang anak.
"Kalau Zef di sini dan sendirian, Papa gak tenang," ucapnya jujur. "Papa gak bisa ninggalin Zef di rumah ini sendirian. Papa khawatir nanti sama Zef."
"Masih ada Bibi sama yang lain kok. Zef gak sendirian, Papa," ucap Zefanya pelan, kepalanya menggeleng seakan menolak ajakan Papanya.
Mata Zenan mungkin sebentar lagi bisa saja berkaca-kaca, mendengar ucapan anaknya itu. "Sayang... Papa mau Zef sama Papa. Mommy juga pasti maunya begitu. Mommy juga pasti kalau lihat, gak akan mau biarkan Zef di sini terus, walaupun ada Bibi dan yang lain, Sayang."