Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #29

29. Keputusan Willa

Matahari pagi menyusup masuk melalui jendela besar kamar itu. Pagi yang cerah sudah tiba.


Zefanya terlihat sudah terbangun, anak itu sudah terduduk di atas tempat tidur. Tangannya tampak menggenggam sebuah kertas— surat yang kemarin ia temukan di kamar Valeria.


Ada satu surat lagi yang belum Zefanya buka. Perlahan, tangannya membuka surat itu dan membacanya.


Zefanya.


Ini untuk Zefanya.


Karena kamu anak Mommy satu-satunya. Semua yang Mommy miliki, mulai dari aset keluarga, aset pribadi Mommy, rumah kita yang juga rumah Opa dan Oma Zefanya dulunya, dan juga mobil, termasuk seluruh usaha yang Mommy dan keluarga punya. Semua itu, akan turun ke Zefanya.


Zefanya memiliki semua itu. Itu semua, milik Zef. Mommy hanya memiliki satu anak, yaitu Zefanya. Begitu pun juga dengan Mommy, Mommy adalah anak satu-satunya Opa dan Oma.


Tapi... tidak mungkin Zef menerimanya sekarang. Itu semua ada waktunya. Tunggu Zef dewasa. Setidaknya, di usia Zef yang ke 17 tahun nanti. Mommy sudah siapkan seorang pengacara untuk membicarakan semua itu.


Anak Mommy gak boleh sedih. Zefanya anak cantik Mommy yang kuat. Zef harus bisa lewatin semua yang terjadi dalam hidup Zef.


Ingat selalu pesan Mommy.


Satu yang terpenting, tetap tumbuh menjadi orang yang baik. Jangan berperilaku buruk kepada seseorang, kecuali orang tersebut sudah keterlaluan kepada kita.


Love you, Zefanya Sayang.


Dari Mommy.


Zefanya membaca pesan itu, matanya masih terus menatap kertas yang dipegangnya. Ia tampak seperti bingung, bukan karena ia tidak mengerti kata-katanya, melainkan karena isi surat itu terasa terlalu besar untuk dirinya yang masih berusia dua belas tahun.


Zefanya menelan ludah.


Rumah. Mobil. Usaha. Aset keluarga.


Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, asing dan berat. Ia belum bisa membayangkan arti semua itu. 


***


Siang itu, matahari berdiri tepat di atas kepala. Jam istirahat kantor baru saja dimulai ketika Willa melangkah keluar dari lift, membawa map tipis berisi dokumen yang bahkan belum sempat ia baca. Pikirannya terlalu penuh.


Di sudut kafe kecil gedung perkantoran itu, seorang laki-laki sudah menunggunya.


Zenan.


Willa berhenti sejenak saat melihatnya. Napasnya tertahan, bukan karena rindu—melainkan karena lelah. Lelah oleh semua yang harus ia hadapi, oleh luka yang belum sembuh tapi dipaksa terus berjalan. 


"Aku gak lama," ucap Willa dingin sambil duduk berhadapan dengannya. "Aku cuma mau denger apa yang mau kamu sampaikan. Habis itu, aku balik kerja."


Zenan mengangguk. Wajahnya terlihat lebih kurus, matanya cekung. "Makasih... karena mau datang."


Willa tidak menjawab.


Zenan menarik napas panjang, langsung ke inti, seolah takut jika ia menunda, keberaniannya akan runtuh.


"Will... aku mohon. Jangan ceraiin aku."


Willa tersenyum tipis— bukan senyum bahagia, melainkan getir. "Zenan, kita udah ngomongin ini. Keputusanku udah bulat."


"Aku tahu," sahut Zenan cepat. "Tapi aku belum pernah benar-benar jelasin semuanya ke kamu. Dan kali ini... aku minta kamu dengerin aku, sampai selesai."


Willa menatapnya tajam. "Kamu punya waktu sepuluh menit."


Zenan mengangguk lagi. Tangannya saling menggenggam di atas meja, bergetar halus.


"Kita tahu, kedatangan Valeria saat itu. Dan itu semua, yang membuat kamu jadi seperti ini," ucapnya pelan. "Tapi sekarang, Valeria sudah gak ada. Dia datang bukan tanpa alasan, Valeria datang karena ternyata selama ini dia menderita sakit. Sakit autoimun, yang akhirnya merenggut nyawanya. Semua alasan itu dia buat agar Zefanya gak sendirian ketika dia pergi nanti, dia gak ada niat lain selain itu, Will. Dia bukan mendekat untuk aku, tapi untuk Zefanya."

Lihat selengkapnya