Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #30

30. Marahnya seorang anak

Keputusan itu tentu tidak terjadi hanya dalam semalam. Tidak juga dengan hanya satu percakapan, atau pun sebuah janji manis. Tapi pagi itu-beberapa minggu setelah pertemuan di kafe. Willa kini berdiri di depan sebuah rumah. Rumahnya bersama Zenan. Ia menatap pintu yang selama ini ia tinggalkan dengan hati setengah mati.


Rumah itu masih sama.


Bersama kedua anaknya tentunya. Nara dan Liora yang terlihat sangat bahagia karena bisa kembali pulang ke rumah, bersama Ibu mereka.


Zenan berdiri di samping Willa, tidak menyentuh atau pun mendesaknya. Ia hanya menunggu. Memberikan Willa ruang, seperti yang diminta.


Nara dan Liora sudah lebih dulu masuk ke rumah itu, saking bahagianya mereka sampai tak mempedulikan Zenan maupun Willa.


"Lihat kan, anak-anak seneng banget bisa balik ke rumah ini sama kamu," ucap Zenan tersenyum. 


Willa tersenyum kecil. "Salah satu hal besar yang bisa bikin aku luluh, selain dari ucapan kamu atau pun hal yang lain."


Zenan menatap wanitanya itu lama, dengan senyuman yang tak pudar. "Sekarang, kamu tunggu apa lagi?"


"Aku boleh masuk?" tanya Willa pelan, menoleh ke laki-laki itu.


Zenan mengangguk. "Tentu, ini rumah kamu. Masih rumah kamu, dan selamanya akan menjadi rumah kamu juga anak-anak kita."


Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Willa menghangat-dan nyeri bersamaan.


Mereka melangkah masuk bersama.


Aroma rumah langsung menyambut Willa. Bukan aroma asing, tapi juga bukan aroma yang benar-benar ia kenal. Rumah ini masih rumahnya, tapi jelas ada ritme baru yang sempat berjalan tanpa kehadirannya. 


Langkah Willa melambat. Matanya menyapu ruang tamu-sofa yang sama, foto keluarga di dinding yang masih terpasang. Foto mereka berempat. Ia berhenti di sana sejenak.


Zenan memperhatikan dari belakang, tak berkata apa pun.


"Kamu gak buang foto itu, atau menyingkirkan," ucap Willa pelan, tanpa menoleh.


Zenan menggeleng. "Aku gak pernah kepikiran buat ngebuang, nyingkirin, atau apa pun itu. Buat aku... itu bukti kalau keluarga kita masih ada, dan selalu utuh.


Willa mengangguk kecil. Dadanya kembali sesak, tapi kali ini tidak sepenuhnya menyakitkan.


Suara tawa Nara dan Liora terdengar dari arah atas. Mereka berlarian di lorong, melihat siapa yang akan lebih dulu sampai ke lantai atas.


"Kamar aku masih sama!" seru Liora dari atas.


"Iya, kamar Kakak juga!" sahut Nara, riang. "Terima kasih, Papa. Bibi juga."


Sementara Liora, sudah lebih dulu masuk ke kamarnya dan menutup pintu-tidak sampai rapat.


Zenan tersenyum melihatnya. "Selamat datang kembali anak-anak Papa yang cantik. Happy-happy lagi di rumah ini!"


Willa tersenyum tipis. Pemandangan itu seperti potongan hidup yang lama tertunda, kini berjalan kembali.


Ia meletakkan tasnya di atas meja kecil dekat sofa. "Aku ke kamar anak-anak sebentar."


Zenan mengangguk. "Ke lantai atas? Ayo, aku ikut ke sana."


Mereka menaiki tangga perlahan. Setiap anak tangga seperti membawa kenangan-malam-malam waktu untuk mereka quality time, pagi yang terburu-buru, pertengkaran kecil Nara dan Liora, dan tawa yang dulu mereka rasakan bersama. Kini semuanya terasa lebih mahal.


Begitu sampai di lantai atas, Willa melihat pintu kamar yang terletak di ujung. Tampak tidak seperti waktu terakhir kali ia melihat itu, kali ini berbeda. Willa tahu, kamar itu kini menjadi milik Zefanya.


Zenan menyadari arah pandangan Willa. "Iya. Itu kamar Zefanya sekarang," ucapnya pelan.


Willa mengangguk kecil-pelan. "Sekarang di mana anaknya?"


"Di kamar, kayaknya tidur habis pulang dari sekolah," jawab Zenan.


"Apa dia tahu Nara dan Liora ke sini?" Willa bertanya lagi, menatap wajah Zenan yang kini melihat ke arah pintu kamar itu.


Zenan mengangguk. "Aku udah jelasin. Dia ngerti, tapi mungkin..." Ia menggeleng. "Pelan-pelan aja, ya? Untuk Zefanya, dia ngerti. Tapi aku perlu waktu untuk ke Nara dan Liora, mereka pasti kaget."


Willa masih menatap suaminya itu. "Aku akan bantu, untuk kasih mereka pengertian nantinya, misalnya mereka merasa berat," ucapnya akhirnya.


"Makasih, Sayang," ucap Zenan, ia mencium kening istrinya. "Maaf, ini semua karena aku," lirihnya.


Dari kamar Nara terdengar suara laci dibuka-tutup, disusul celoteh kecil penuh antusias. Liora keluar dari kamarnya, rambutnya sedikit berantakan, matanya berbinar saat melihat Willa.


"Mah," panggilnya ceria. "Aku boleh minta satu hal sama Mama Papa?"


Willa dan Zenan tersenyum. 


Lihat selengkapnya