Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #31

31. Marahnya seorang anak

Malam itu tidak benar-benar selesai ketika lampu-lampu dimatikan. Ia hanya berpindah bentuk-menjadi sunyi yang menempel di sudut rumah.


Tangisan Liora masih terdengar dari balik pintu kamarnya. Tidak keras, tidak juga meraung-lebih seperti isak yang ditahan, seolah anak itu berusaha menangis tanpa ingin didengar siapa pun. Justru itu yang membuat dada Willa terasa diremas.


Willa berdiri di depan pintu kamar Liora cukup lama sebelum akhirnya mengetuk pelan.


"Lio... Mama boleh masuk?"


Tidak ada jawaban. Hanya suara isak yang semakin pelan, tapi tak berhenti.


Willa mendorong pintu yang tak tertutup rapat itu dengan perlahan. Ia masuk dengan langkah hati-hati, seakan takut membuat suara apa pun.


Liora meringkuk di atas tempat tidur, memeluk boneka kesayangannya erat-erat. Wajah kecilnya basah, matanya merah, napasnya tersengal-sengal karena terlalu banyak menangis.


Willa duduk di tepi ranjang, tidak langsung menyentuh.


"Liora sedih, ya?" ucapnya pelan.


Liora tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah menghadap dinding.


Willa menelan ludah. "Mama tahu... ini berat buat Liora."


"Mama bilang Liora bakal punya temen," suara kecil itu akhirnya keluar, serak. "Tapi Liora gak mau kalau temennya kayak dia. Liora maunya adik kecil, seperti Harf dan yang sering main sama Kakak Ansel dan Kakak Nadien. Tapi kenapa tiba-tiba ada dia? Liora gak mau." Liora menggeleng di akhir kalimatnya, bukti bahwa ia menolak keras.


Willa memejamkan mata sesaat. "Sayang... Zefanya bukan mau ngerebut apa pun dari Liora atau pun Kakak," katanya hati-hati. Dia juga gak pernah minta jadi bagian dari keluarga ini."


Liora membalikkan badan cepat. "Tapi Papa punya anak lain," katanya sambil terisak. "Berarti Papa sayangnya kebagi. Liora gak mau."


Kata itu menghantam tepat di hati Willa.


Willa meraih tangan Liora kali ini tidak ragu. "Dengerin Mama, ya. Sayang itu bukan kue yang kalau dibagi jadi habis."


"Tapi Papa bohong," bantal Liora, air matanya jatuh lagi. "Papa gak pernah bilang."


"Iya," Willa mengangguk. "Papa memang pernah salah. Papa udah nyakitin Mama, nyakitin Kak Nara, dan nyakitin Liora juga."


Liora terdiam.


"Tapi Zefanya bukan bagian dari kesalahan Papa itu," lanjut Willa lembut. "Dan bukan juga kesalahan Liora."


Liora menggigit bibirnya. "Liora benci Papa udah bohong, dan dia, Liora gak suka."


Wia mengusap rambut anak bungsunya itu pelan. "Liora boleh sedih. Boleh marah. Tapi Mama gak mau Liora menyimpan benci. Benci itu hal yang gak baik, hal buruk. Jeleknya lagi kalau kita menyimpan benci itu... cuma bikin capek, gak ada manfaatnya."


Tangis Liora perlahan mereda, berganti isak kecil yang sesekali tersendat. Willa menarik anak itu ke dalam pelukannya.


"Pelan-pelan aja," bisiknya. "Mama yakin Lio bisa nerima, Liora kan anak baik. Anak baik gak boleh begitu, ya."


***

Lihat selengkapnya