Bertahan atau Hancur

ravella han
Chapter #32

32. Berita

Riuh di Luar, Sunyi di Dalam.


Berita itu tidak datang pelan-pelan.


Ia meledak.


Seperti api yang menemukan bensin, nama keluarga Rouvin kembali memenuhi berbagai judul-portal berita, akun gosip, hingga grup percakapan yang bahkan tidak pernah Willa buka.


Zenan Welery Rouvin dikabarkan memiliki seorang anak dari perempuan lain.


Pernikahan yang sempat retak disebut tak jadi berakhir, dan istri sah memilih bertahan.


Anak baru perlahan akan diperkenalkan ke publik.


Judul-judul itu terasa dingin dan kejam, meski ditulis dengan kata-kata rapi.


Willa membaca satu, dua, lalu berhenti. Tangannya gemetar sedikit, tapi wajahnya tetap tenang. Ia mematikan ponsel, meletakkannya terbalik di meja, lalu menarik napas panjang.


Di rumah, semuanya masih berjalan seperti biasa-sebisa mungkin.


Nara berangkat sekolah lebih awal tanpa banyak bicara. Sementara Liora, masih enggan turun sarapan jika mengetahui Zefanya sudah duduk di meja.


Zenan dan Willa menyaksikan semua itu, mereka tidak memaksakan sikap anak-anak mereka. Jangankan Nara dan Liora yang masih tergolong anak-anak menuju remaja, yang orang dewasa pun bisa kesulitan dan mungkin tidak akan menerima suatu hal yang dirasa cukup berat diterima di hidup mereka.


Di luar rumah, dunia seperti bergerak tanpa ampun.


Nama Willa Arissa, atau Wilhelmina Arissa Faustine tidak hanya disebut semata, melainkan dibesarkan hingga seakar-akar. Willa, yang lebih dikenal dengan nama Willa Arissa.


Kolom komentar dalam sebuah berita berubah menjadi ruang penghakiman massal. Tidak ada yang benar-benar peduli pada konteks, perasaan, atau usia anak-anak yang terlibat. Yang ada hanya opini, asumsi, dan kalimat-kalimat yang ditulis tanpa rasa empati.


"Kalau gue yang jadi istrinya, udah cabut dari dulu."


"Sumpah ya, istrinya terlalu sabar atau emang bodoh sih?"


"Sorry sih kalau gue. Ini bukan tentang sabar, tapi harga diri sebagai wanita. Yakali udah diselingkuhin, masih mau balik lagi."


"Kasihan anaknya, tapi menurut gue sebagai sesama perempuan sih ya kasihan istrinya."


"Kalau gue jadi Willa, udah gak sudi gue lihat muka lakinya, ibaratnya najis."


"Karena harta aja itu, siapa sih yang gak tergiur kekayaan unlimited."


"Komentarnya pada lucu, ada yang bahas harta. Padahal Willanya sendiri juga udah kaya."


Willa membaca komentar-komentar itu dalam diam. Tidak ada satu pun yang niat dibalasnya, ataupun memberitahu ke Zenan.


Ia hanya menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu kembali mematikannya.


"Kamu gak perlu baca," ucap Zenan akhirnya, suaranya pecah.


Willa menoleh sekilas pada suaminya itu. "Aku tahu."


Lihat selengkapnya