Malam turun perlahan di rumah besar itu, membawa ketenangan yang terasa rapuh. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan pepohonan yang tertata rapi di halaman luas. Di dalam, rumah tampak sunyi-bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang mungkin masih sedikit menyimpan sisa-sisa dari emosi.
Di ruang keluarga lantai dua, Nara duduk di sofa panjang dengan punggung bersandar kaku. Sebuah tablet tergeletak di pangkuannya, tak benar-benar ia baca. Di sisi lain ruangan, Liora duduk di karpet bulu dengan sebuah buku gambar dan pewarna.
"Ayo sana, Zef ikut aja di deket mereka," ucap Willa pelan, ia berusaha mendorong Zefanya sejak tadi. Mereka-Willa, Zenan, dan Zefanya baru saja dari lantai satu.
Zefanya melirik Willa, ia tampak ragu.
"Kalian belum tidur?" tanya Willa, suaranya sengaja dibuat biasa.
Nara melirik, melihat tiga orang baru saja sampai di lantai ini. "Mama juga belum tidur," ucapnya cuek, langsung kembali fokus pada ipadnya.
Sementara Liora, tampak asik mewarnai tanpa memedulikan apapun. Bukan tanpa sengaja, melainkan ia jelas menyadari kehadiran Zefanya.
Willa tersenyum tipis melihat reaksi kedua anaknya. Ia tidak pernah memaksakan apa pun, terlebih kehendak anaknya.
"Papa mau ke ruang kerja lagi, ya," ucap Zenan pelan pada Zefanya. "Zef ikut sama mereka aja, gak usah takut. Mereka sebenernya baik," bisiknya sambil melirik Nara dan Liora.
Willa tersenyum. "Iya, lagi sok galak aja. Aslinya baik kok," ucapnya pelan, agar tak terdengar Nara dan Liora.
Zenan kemudian berlalu, langkahnya sengaja diperlambat agar tidak terdengar tergesa.
"Duduk aja di sana kalau Zef mau," kata Willa lembut. "Gak harus ngomong apa-apa. Mama tinggal dulu ya, gapapa?" Ia lalu ikut turun ke lantai bawah dan meninggalkan Zefanya yang masih berdiri di depan tangga.
Zefanya menarik napas dalam, lalu melangkah pelan. Ia melewati mereka-Nara dan Liora, yang sedikitpun tak melirik dirinya, seakan tak ingin peduli sama sekali.
"Kalau mau duduk, duduk aja. Gak usah kayak patung gitu berdiri doang. Gak ada yang larang juga," Nara membuka suara, walaupun matanya masih fokus dengan ipadnya.
Liora masih bergeming, asik dengan kegiatannya.
"I-Iya, Kak." Zefanya mendekat pelan, ia hendak duduk di kursi.
Liora mengangkat wajahnya, ia menatap Zefanya. "Mau ikut mewarnai?" Tawarnya sambil mengulurkan satu pewarna ke Zefanya, wajahnya tak berekspresi.
"B-Boleh, Lio?" Zefanya bertanya balik.
"Kakak sudah bilang, gak ada yang larang," ucap Liora, lalu kembali menunduk-fokus mewarnai. "Papa yang beliin buku gambar ini waktu ke Paris. Lio sangat suka. Kalau Zef mau, ikut sama Lio jika tidak keberatan."
Ekspresi wajah Zefanya perlahan membaik, tak seperti tadi lagi yang penuh ragu-ragu. "Tentu Zef mau!" Ia langsung duduk di dekat Liora.
"Pakai yang baru aja, yang Lio lagi warnain udah mau selesai." Liora memberikan buku gambarnya yang lain pada Zefanya.
Zefanya menatap sebentar ke Liora. "Apa gapapa? Kalau begitu, aku tunggu Liora selesai saja, biar kita mewarnai yang baru bersama," katanya.
Liora menggeleng. "Tidak perlu, tinggal seuprit," ucapnya dengan isyarat jari jempol dan telunjuk yang menyatu, ekspresi wajahnya pun mengikuti.
"Besok Kakak ada lomba baca puisi, jangan lupa pada dateng," ucap Nara, pandangan matanya sejak tadi tetap di satu tempat.
"Bukannya pentas seni?" Liora menoleh.
Nara menghela napas dengan bola memutar, ia melihat ke adiknya itu. "Pentas seni iya. Kalau baca puisi kan, individu, dan itu cuma Kakak aja," katanya.
Zefanya menatap keduanya, dan lama pada Nara.